Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts

Wednesday, April 6, 2016

Ibnu Thufail merupakan filsuf dari (Al-Andalus)

Gambar Lukisan dari peralatan kedokteran pada masa Al-Andalus.Nama lengkapnya adalah Abu Bakr Muhammad bin 'Abdul Malik bin Muhammad bin Thufail al-Qaisi al-Andalusi (nama Latin Abubacer). Beliau hidup sekitar tahun 1105 sampai 1185.

Ibnu Thufail lahir di Guadix dekat Granada sekitar tahun 1105, ia dididik oleh Ibnu Bajjah (Avempace). Ia menjabat sekretaris untuk penguasa Granada, dan kemudian sebagai wazir dan dokter untuk Abu Ya'qub Yusuf, penguasa Spanyol Islam (Al-Andalus) di bawah pemerintahan Muwahhidun, pada yang mana ia menganjurkan Ibnu Rusyd sebagai penggantinya sendiri saat ia beristirahat pada 1182. Ia meninggal di Maroko.

Di zamannya nama baiknya sebagai pemikir dan pelajar telah membuatnya dipuji sebagai Maecenas. Ibnu Thufail juga merupakan pengarang Hayy bin Yaqthan (Hidup, Putra Kesadaran) roman filsafat, dan kisah alegori lelaki yang hidup sendiri di sebuah pulau dan dan yang tanpa hubungan dengan manusia lainnya menemukan kebenaran dengan pemikiran yang masuk akal, dan kemudian keterkejutannya pada kontak dengan masyarakat manusia untuk dogmatisme, dan penyakit lainnya.

Karya:

  • Hayy bin Yaqzan
  • Peningkatan akal manusia, dipamerkan dalam kehidupan Hai ebn Yokdhan , ditulis dalam bahasa Arab di atas 500 tahun yang lalu, oleh Abu Jaafar ebn Tophail, baru diterjemahkan dari bahasa Arab asli, oleh Simon Ockley. Dengan lampiran, di mana kemungkinan pria mencapai pengetahuan yang benar dari Allah, dan hal yang diperlukan untuk keselamatan, tanpa instruksi, dianggap sebentar. London: Dicetak dan dijual oleh E. Powell, 1708.
  • Abu Bakar Ibnu Tufail, Sejarah Hayy Ibn Yaqzan, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Simon Ockley, direvisi, dengan pengantar oleh AS Fulton. London:. Chapman dan Hall, 1929 tersedia secara online (menghilangkan bagian pendahuluan)
  • Ibn Tufayl Hayy ibn Yaqzan: kisah filosofis, diterjemahkan dengan pendahuluan dan catatan oleh Lenn Evan Goodman. New York: Twayne 1972.
  • Perjalanan jiwa: kisah Hai bin Yaqzan, seperti yang diceritakan oleh Abu Bakar Muhammad bin Tufail, terjemahan baru oleh Riad Kocache. London: Octagon, 1982.
  • Dua filsuf Andalusia, diterjemahkan dari bahasa Arab dengan pengantar dan catatan oleh Jim Colville. London: Kegan Paul, 1999.
  • Medieval Tulisan-tulisan filosofis Islam, ed. Muhammad Ali Khalidi. Cambridge University Press, 2005. (menghilangkan bagian pengantar, menghilangkan kesimpulan dimulai dengan kenalan protagonis dengan Absal, termasuk §§1-98 dari 121 sebagai nomor dalam versi Ockley-Fulton)
  • Ben-Zaken, Avner, "Menjinakkan Mystic", di Reading Hayy Ibn Yaqzan-: A History Lintas Budaya Otodidak (Johns Hopkins University Press, 2011). ISBN 978-0801897399

Sumber: Wikipedia

Ibnu Rusyd Pendiri pikiran merdeka

Lukisan Ibnu Rusyd
Ibnu Rusyd atau dalam bahasa Latin Averroes, adalah seorang filsuf dari Spanyol (Andalusia).  Dia adalah pendiri pikiran merdeka sehingga memiliki pengaruh yang sangat tinggi di Eropa.

Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja'far Harun dan Ibnu Baja / Bajjah.

Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai "Kadi" (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang memengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan, termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum.

Pemikiran Ibnu Rusyd

Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada.

Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti yang dipahami oleh orang Eropa pada abad pertengahan; dan filsafat Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap keberagamaannya.

Membaca Ibnu Rusyd, yang paling menonjol adalah aspek falsafaty (estetika logika dan filsafat) yang terbentang di hampir setiap karyanya. Menurutnya, nilai filsafat dan logika itu sangat penting, khususnya dalam mentakwilkan dan menafsirkan Alquran sebagai kitab teks, yang selalu membutuhkan artikulasi makna dan perlu diberi interpretasi kontekstual dan bukan artikulasi lafadz.

Islam sendiri, demikian Rusyd, tidak melarang orang berfilsafat, bahkan Al Kitab, dalam banyak ayatnya, memerintahkan umatnya untuk mempelajari filsafat. Menurut Rusyd, takwil (pentafsiran) dan interpretasi teks dibutuhkan untuk menghindari adanya pertentangan antara pendapat akal dan filsafat serta teks Alquran. Ia memaparkan, takwil yang dimaksud di sini adalah meninggalkan arti harfiah ayat dan mengambil arti majasinya (analogi). Hal ini pula yang dilakukan para ulama klasik periode awal dan pertengahan.

Berkaitan dengan penciptaan alam, Rusyd yang menganut teori Kausalitas (hukum sebab-akibat), berpendapat bahwa memahami alam harus dengan dalil-dalil tertentu agar dapat sampai kepada hakikat dan eksistensi alam. Setidaknya ada tiga dalil untuk menjelaskan teori itu, kata Rusyd, yaitu:

PERTAMA, dalil inayah yakni dalil yang mengemukakan bahwa alam dan seluruh kejadian yang ada di dalamnya, seperti siang dan malam, matahari dan bulan, semuanya menunjukkan adanya penciptaan yang teratur dan rapi yang didasarkan atas ilmu dan kebijaksanaan. Dalil ini mendorong orang untuk melakukan penyelidikan dan penggalian yang terus menerus sesuai dengan pandangan akal fikirannya. Dalil ini pula yang akan membawa kepada pengetahuan yang benar sesuai dengan ketentuan Alquran.

KEDUA, dalil ikhtira’ yaitu asumsi yang menunjukkan bahwa penciptaan alam dan makhluk di dalamnya nampak jelas dalam gejala-gejala yang dimiliki makhluk hidup. Semakin tinggi tingkatan makhluk hidup itu, kata Rusyd, semakin tinggi pula berbagai macam kegiatan dan pekerjaannya. Hal ini tidak terjadi secara kebetulan. Sebab, bila terjadi secara kebetulan, tentu saja tingkatan hidup tidak berbeda-beda. Ini menunjukkan adanya pencipta yang mengatur kehidupan. Dalil ini sesuai dengan syariat Islam, dimana banyak ayat yang menunjukkan perintah untuk memikirkan seluruh kejadian alam ini.

KETIGA, dalil gerak disebut juga dalil penggerak pertama yang diambil dari Aristoteles. Dalil tersebut mengungkapkan bahwa alam semesta bergerak dengan suatu gerakan yang abadi, dan gerakan ini mengandung adanya penggerak pertama yang tidak bergerak dan berbenda, yaitu Tuhan.

Menurut Rusyd, benda-benda langit beserta gerakannya dijadikan oleh Tuhan dari tiada dan bukan dalam zaman. Sebab, zaman tidak mungkin mendahului wujud perkara yang bergerak, selama zaman itu kita anggap sebagai ukuran gerakannya. Jadi gerakan menghendaki adanya penggerak pertama atau sesuatu sebab yang mengeluarkan dari tiada menjadi wujud. Rusyd yang juga dikenal sebagai ‘pelanjut’ aliran Aristoteles ini, menilai bahwa substansi yang lebih dahulu itulah yang memberikan wujud kepada substansi yang kemudian tanpa memerlukan kepada pemberi form (Tuhan) yang ada di luarnya.

Karya

  • Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih)
  • Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran)
  • Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa Asy-Syari’at (perihal perkataan-perkataan dalam hal kebijaksaan dan syariat)

Sumber: 
http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Rusyd