Showing posts with label Ilmuan Muslim. Show all posts
Showing posts with label Ilmuan Muslim. Show all posts

Tuesday, May 31, 2016

Abu ‘Ali Al-Hasan bin Al-Haytham dikenal sebagai Polymath

Abu ‘Ali Al-Hasan bin Al-Haytham, Ilmuwan kebanyakan menyebut dengan Ibnu Al-Haytham atau Ibnu haytham atau juga Al-Hazen. Beliau lahir di Basra, Iraq pada tahun 965 M, dikenal sebagai Polymath, yaitu istilah yang diberikan kepada mereka yang menguasai berbagai bidang ilmu. Beliaulah Muslim timur tengah yang menemukan Kamera pertama di Dunia.

Kata kamera yang digunakan saat ini berasal dari bahasa Arab, yakni qamara, Istilah itu muncul berkat kerja keras al-Haitham. Bapak fisika modern itu terlahir dengan nama al-Haitham dan dikenal jenius sejak kecil, Ia menempuh pendidikan pertamanya di tanah kelahirannya. Beranjak dewasa ia merintis kariernya sebagai pegawai pemerintah di Basrah. Namun, Al-Haitham lebih tertarik untuk menimba ilmu daripada menjadi pegawai pemerintahan. Setelah itu, ia merantau ke Ahwaz dan metropolis intelektual dunia saat itu yakni kota Baghdad. Di kedua kota itu ia menimba beragam ilmu. Gairah keilmuannya yang tinggi membawanya mengembara hingga ke Mesir.

Al-Haitham sempat mengenyam pendidikan di Universitas al-Azhar yang didirikan Kekhalifahan Fatimiyah. Setelah itu, secara otodidak belajar secara mandiri hingga menguasai beragam disiplin ilmu seperti ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, fisika dan filsafat. Namun secara serius dia mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik. Beragam teori tentang ilmu optik telah dilahirkan dan dicetuskannya. Dialah orang pertama yang menulis dan menemukan pelbagai data penting mengenai cahaya. Konon, dia telah menulis tak kurang dari 200 judul buku. Sayangnya, hanya sedikit yang tersisa. Bahkan karya monumentalnya, Kitab al-Manazhir, tidak diketahui lagi keberadaannya. Orang hanya bisa mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam bahasa latin.

Kamera pertama kali diciptakan oleh ilmuan Iraq yang juga seorang Muslim; beliau adalah Abu ‘Ali Al-Hasan bin Al-Haytham. Ilmuan kebanyakan menyebut dengan Ibnu Al-Haytham atau Ibnu haytham atau juga Al-Hazen.

Beliau lahir di Basra, Iraq pada tahun 965 M. keahliannya pada ilmu membawa ke Mesir untuk terus mencari dan menuntut ilmu dan akhirnya singgah di Al-Azhar. Beliau juga dikenal sebagai Polymath, yaitu istilah yang diberikan kepada mereka yang menguasai berbagai bidang ilmu.

Sejarah mencatat bahwa Al-Hazen adalah ilmuan yang menguasai berbagai disiplin ilmu, diantaranya ialah falak, Matematika, geometri, pengobatan, Fisika dan juga filsafat. Serta disiplin ilmu optic yang membuatnya menciptakan kamera.

Prestasi bukan hanya sebagai pencipta kamera saja. Tapi masih banyak karya-karya beliau baik berupa buku-buku atau juga barang yang banyak memberikan inspirasi bagi para ilmuan setelahnya.

Ilmuan yang digelari sebagai “First Scientist” menciptakan penemuannya yang sangat fenomenal ini pada tahun 1020 M di Al-Azhar Mesir. Dan 19 tahun setelah penemuannya itu beliau meninggal dunia di kota yang sama, Mesir pada tahu 1039 M.

Dan kata kamera atau camera juga diilhami dari penemuan Al-hazen tersebut, karena beliau sendiri yang memberikan nama untuk alat ciptaannya itu dengan kata “Qumroh”. Berasal dari kata “Qomar” dalam bahasa Arab yang berarti Bulan.

Karyanya ini terinspirasi oleh bulan itu sendiri. Qumroh pertama itu ialah sebuah kamar kecil yang semua sudutnya tertutup rapat tak ada cahaya sekali, hanya ada lubang kecil didepannya. Dan dengan lubang itu cahaya akan masuk kemudian menyimpan bayangan yang terbayang masuk oleh cahaya kedalam qumroh yang didalamnya sudah disediakan media untuk menyimpan bayangan tersebut.

Jadi ibarat bulan, yang ia bersinar ditengah kegelapan. Pun demikian qumroh yang gelap kemudian ada cahaya kecil yang masuk kedalamnya dan menyimpan obyek yang terbawa oleh cahaya tersebut.

Maha karya al-Haitham yang paling menumental merupakan penemuan yang sangat inspiratif yang dilakukan al-Haithan bersama Kamaluddin al-Farisi. Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.

Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ”ruang gelap”. Dunia mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk Kitab al-Manazir (Buku optik). Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, sang fisikawan Muslim legendaris itu lalu menyusun Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau kamar gelap.

Banyak karya-karya dari Al-Hazen ini yang memberikan inspirasi dan modal dasar bagi para ilmuan setelahnya. Salah satunya yang paling masyhur ialah kitabnya yang bernama “Al-Manazhir”, Orang-orang barat menyebutnya dengan “The Optics”.

The Optics yang menyimpan banyak teori-teori ilmu tentang cahaya dan lensa juga penglihatan ini banyak dipakai di Universitas-Universitas Eropa dan bahkan menjadi materi wajib di banyak kampus di negeri Eropa.

Ini juga menjadi sanggahan bagi mereka yang selalu menyangka bahwa Islam adalah agama yang mundur dan terbelakang, tidak mendukung ilmu dan sains. Tapi sejarah mengatakan sebaliknya.

Sejarah telah menjadi saksi bahwa Islam adalah agama yang mendukung penuh majunya ilu dan teknologi. Tercatat banyak ilmuan-ilmuan yang muncul dari kalangan Muslim di berbagai bidang Ilmu. AL-Hazen hanya salah satunya.

Setelah penemuan Fenomenal al-Haitham ini, dunia barat mulai terinspirasi dan diperkenalkan pada abad 16 M, berturut-turut ilmuwan barat terinspirasi oleh penemuan al-Haitham yaitu Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lobang bidik lensa dengan lensa (camera). Giovanni Batista della Porta (1535-1615 M). Johannes Kepler (1571 – 1630 M). Kepler meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).

Setelah itu, Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada 1665 M. Setelah 900 tahun dari penemuan al-Haitham pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura. Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827. Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean dan mengembangkan plat-plat dalam perjalanan kamar gelapnya yang dikonversi gerbong. Kemudian pada tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Hitham dengan baik sekali. Eastman menciptakan kamera kodak. Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.

Ibnu Yunus adalah astronom dan matematikawan Muslim

Ibnu Yunus adalah astronom dan matematikawan Muslim dari Mesir. Dia termasuk ilmuwan yang paling teliti dalam melakukan penelitian. Ia telah memberi inspirasi dan pengaruh bagi para astronom di dunia Muslim maupun Barat. Salah satu astronom Muslim terkemuka yang banyak menerapkan buah pemikiran Ibnu Yunus adalah al-Tusi.  Lewat Ilkhani zij yang ditulis al-Tusi, hasil penelitian  Ibnu Yunus tentang bulan dan matahari masih tetap digunakan.

Biografi

Ibnu Yunus hidup di Mesir pada abad keempat Hijriyah (abad kesepuluh Masehi). Tanggal dan tempat kelahirannya tidak diketahui secara pasti, sekalipun sebagian sumber ada yang mengatakan bahwa dia dilahirkan pada tahun 341 H (952 M).

Ibnu Yunus mengabdikan dirinya kepada khalifah dari Dinasti Fatimiyyah bernama Al-Aziz Billah. Dia mengetahui potensi ilmiah Ibnu Yunus dan untuk itu dia selalu memotivasinya, memberinya jabatan dan membangunkan untuknya teropong bintang di gunung Al-Mugaththam.

Setelah wafatnya Al-Aziz Billah, Ibnu Yunus melanjutkan pengabdiannya kepada anaknya, Al-Hakim Biamrillah yang disebutkan di dalam buku-buku sejarah bahwa dia mencintai ilmu dan memperhatikan ilmu astronomi. Dia juga memberikan jabatan yang sesuai kepada para ilmuwan.

Dalam buku "Sirah" karangan Ibnu Hisyam, bagaimana Al-Hakim Biamrillah memperhatikan artikel Ibnu Yunus tentang Nil dan memanggilnya untuk merealisasikan proyeknya dan dia sendiri yang mengawasinya. Al-Hakim Biamrillah juga telah membangun "Darul Hikmah" di Kairo sebagai tempat bertemunya para ulama' dan sebagai tandingan "Baitul Hikmah" yang dibangun oleh Khalifah Al-Ma’mun di Baghdad. Al-Hakim membekali Darul Hikmah dengan perpustakaan besar yang disebut perpustakaan Darul Ilmi, dan melengkapi peralatan teropong bintang yang ada di Gunung Al-Mugaththam. Ibnu Yunus menghadap ke haribaan Tuhannya pada tahun 399 H (1009 M).

Astronomi

Dari teropong bintang di Gunung Al-Mugaththam, Ibnu Yunus meneropong dua kali gerhana matahari, yaitu pada tahun 977 dan tahun 978 M. Pada tahun yang sama dia juga meneropong gerhana bulan dan mencatat semua peristiwa yang terjadi di dalam tabel astronominya.

Ibnu Yunus menghitung kecondongan daerah gugusan bintang-bintang dengan tingkat ketelitian yang sangat mengagumkan. Karena hasil peneropongan Ibnu Yunus yang tepat, maka para astronom Barat pada masa sekarang mengambilnya dan menjadikannya sebagai rujukan untuk menghitung gravitasi bulan.

Ibnu Yunus menemukan bandul jam mendahului seorang ilmuwan Itali, Galileo, enam ratus tahun sebelumnya. Mereka mempergunakannya untuk mengukur waktu ketika sedang melakukan peneropongan bintang karena lebih akurat dari pada jam mesin yang telah banyak digunakan pada masa itu.

Ibnu Yunus adalah penemu Bandul (ayunan) yang berguna untuk mengetahui deti-detik waktu ketika seseorang sedang meneropong benda angkasa. Fungsi bandul ciptaan Ibnu Yunus hampir serupa dengan bandul pada jam dinding. Karya Ibnu Yunus ini telah dikenal 6 abad sebelum Galileo Galilei menemukan pendulum (1564-1642). Ibnu Yunus juga menemukan Rubu Berlubang (Gunners Quadrant), sebuah alat untuk mengukur gerakan bintang.

Banyak sumber mengklaim bahwa Ibnu Yunus menggunakan sebuah bandul untuk mengukur waktu. Hal itu dicatat Gregory Good dalam Sciences of the Earth: An Encyclopedia of Events, People, and Phenomena. Penemuannya itu juga diakui Roger G Newton dalam Galileo's Pendulum: From the Rhythm of Time to the Making of Matter.

Ibnu Yunus juga telah membuat rumus waktu. Ia menggunakan nilai kemiringan sudut rotasi bumi terhadap bidang ekliptika sebesar 23,5 derajat.  Tabel tersebut cukup akurat, walaupun terdapat beberapa error untuk altitude yang besar. Ibnu Yunus juga menyusun tabel yang disebut Kitab as-Samt berupa azimuth matahari sebagai fungsi altitude dan longitude matahari untuk kota Kairo. Selain itu, disusun pula tabel a(h) saat equinox untuk h = 1, 2, …, 60 derajat.

Tabel untuk menghitung lama siang hari (length of daylight) juga disusun  Ibnu Yunus.  Ia juga menyusun tabel untuk menentukan azimuth matahari untuk kota Kairo (latitude 30 derajat) dan Baghdad (latitude 33:25), tabel sinus untuk amplitude terbitnya matahari di Kairo dan Baghdad. Ibnu Yunus juga disebut sebagai kontributor utama untuk penyusunan jadwal waktu di Kairo.

Matematika

Ibnu Yunus mampu menyelesaikan sebagian permasalahan yang ada dalam hitungan trigonometri berbentuk bola (spherical trigonometri) dengan bantuan garis vertikal bola langit pada masing-masing level, baik yang bersifat horisontal maupun vertikal.

Ibnu Yunus menemukan kaedah-kaedah dan hubungan matematis yang mungkin dapat dijadikan alat untuk merubah proses perkalian menjadi proses tambahan. Penemuan ini telah banyak memudahkan proses penghitungan. Dan, tidak diragukan bahwa penemuan ini telah memacu lahirnya ilmu hitung logaritma yang ada pada matematika modern.

Karya tulis Ibnu Yunus
"Az-Zaij Al-Hakimi," atau "Az-Zaij Al-Kabir Al-Hakimi." - Ibnu Yunus memberi nama buku ini sebagai penghormatan kepada khalifahnya, Al-Hakim Biamrillah. Menurut Ibnu Khalkan, buku ini merupakan buku yang paling tebal pada bidangnya. Karena, pengantarnya saja sangat panjang ditambah dengan delapan puluh satu pasal. Buku ini terdiri dari tabel-tabel astronomi yang berisi basil penelitian astronomi Ibnu Yunus dan basil penelitian astronomi para astronom sebelumnya setelah dikoreksi dan mengalami perbaikan. Nilai penelitian astronomi yang ada pada buku ini dijamin kebenarannya hingga tujuh angka desimal, dan tingkat akurasi seperti ini tentu sangat mengagumkan sekali. Di antara isi buku ini juga adalah berupa penjelasan Ibnu Yunus mengenai cara yang digunakan oleh para astronom pada masa Khalifah Al-Ma'mun dalam mengukur lingkaran bola bumi. Perlu diberitahukan bahwa buku "Az-Zaij Al-Hakimi" merupakan buku rujukan terpercaya bagi para ulama' Mesir dalam menetapkan kalender dan masalah-masalah yang berhubungan dengan perbintangan. Akan tetapi yang disayangkan, buku ini tidak sepenuhnya sampai kepada kita, karena sebagian bab-babnya masih berserakan di berbagai perpustakaan di beberapa negara.
Beberapa bab dari buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis oleh seorang orientalis Prancis, Kausan, pada tahun 1804 M. Berkomentar tentang Ibnu Yunus, seorang filsuf dan sosiolog Prancis, Gustav Le Bon mengatakan, "Ibnu Yunus menulis buku "Az-Zaij Al-Hakimi" di Mesir dan buku itu lebih akurat dari pada semua buku pada bidang yang sama."
"Az-Zaij Ash-Shaghir." - Buku ini juga dikenal dengan nama "Zaij Ibnu Yunus." Secara khusus buku ini memuat tabel-tabel astronomi dan basil penelitiannya di Mesir. Salah satu dari kopi salinan buku ini terdapat di perpustakaan Darul Kutub Mesir.
"Kitab Bulugh Al-Umniyyah Fima Yata'allaq Bithulu'i Asy-Sya'ri Al-Yamaniyyah."
"Kitab Fiihi As-Sumtu."

Kontribusinya bagi peradaban Islam

Kontribusi yang diberikan Ibnu Yunus bagi peradaban Islam bahkan kepada dunia sangat besar. Hal tersebut bisa diketahui dari hasil karya-karyanya. Ia telah membuat rumusan waktu yang cukup akurat. Ia juga menyusun tabel dalam kitab as-Samt yang berupa azimuth matahari sebagai fungsi altitude dan longitude untuk kota Kairo. Tabel untuk menghitung lamanya siang hari dan untuk menentukan azimuth matahari. Rumusannya sangat membantu umat Islam dalam menentukan waktu sholat dan hari-hari besar.

Hasil penelitian dan karya-karyanya telah memberikan inspirasi bagi astronom muslim maupun non-muslim. Hasil penelitiannya tentang matahari dan bulan sampai sekarang masih digunakan. Ia telah mengobservasi lebih dari 10.000 tempat posisi matahari dengan menggunakan astrolable yang besar berdiameter 1,4 meter.  Bahkan diklaim bahwa Ibnu Yunus merupakan orang pertama yang menggunakan pendulum untuk mengukur waktu.

Kehidupan Ibnu Yunus dan dedikasinya menjadi inspirasi para ilmuan sesudahnya. Hasil penelitiannya yang akurat dijadikan rujukan. Maka tidak heran jika sampai sekaran namanya tetap harum dilubuk hati para ilmuan. Penelitiannya tentang matahari dan bulan serta catatan-catatan observasinya memberikan manfaat bagi umat Islam untuk mengetahui waktu sholat, kiblat dan hari-hari besar Islam.

Thursday, May 12, 2016

Abul Wafa Muhammad Al Buzjani Penemu sinus

Abu al-Wafā', Muḥammad ibn Muḥammad ibn Yahya bin Ismail bin al-Abbas al-Būzjānī atau Abū al-Wafa Būzhgānī  adalah Matematikawan dan Astronom Persia yang bekerja di Bagdad.

Abul Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail al-Buzjani lahir 10 Juni tahun 940 M/328 H di kota kecil bernama Buzhgan, (sekarang Torbat-e Jam ) di Khorasan (Sekarang Iran). Sejak masih kecil, kecerdasannya sudah mulai nampak dan hal tersebut ditunjang dengan minatnya yang besar di bidang ilmu alam.

Ia belajar matematika dari pamannya bernama Abu Umar al- Maghazli dan Abu Abdullah Muhammad Ibn Ataba. Sedangkan, ilmu geometri dikenalnya dari Abu Yahya al-Marudi dan Abu al-Ala’ Ibn Karnib.

Masa sekolahnya dihabiskan di kota kelahirannya itu. Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, pada usia 19, di tahun 959M Abul Wafa pindah ke Baghdad mengenyam pendidikan dan tinggal di sana selama empat puluh tahun.

Abul Wafa tumbuh besar di era bangkitnya sebuah dinasti Islam baru yang berkuasa di wilayah Iran. Dinasti yang bernama Buwaih itu berkuasa di wilayah Persia — Iran dan Irak ñ pada tahun 945 hingga 1055 M. Kesultanan Buwaih menancapkan benderanya di antara periode peralihan kekuasaan dari Arab ke Turki. Dinasti yang berasal dari suku Turki itu mampu menggulingkan kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad pada masa kepemimpinan Ahmad Buyeh.

Kontribusi

Di bidang ilmu geometri, Abul Wafa memberikan kontribusi signifikan bagi pemecahan soal-soal geometri dengan menggunakan kompas; konstruksi ekuivalen untuk semua bidang, polyhedral umum; konstruksi hexagon setengah sisi dari segitiga sama kaki; konstruksi parabola dari titik dan solusi geometri bagi persamaan.

Konstruksi bangunan trigonometri versi Abul Wafa hingga kini diakui sangat besar kemanfaatannya. Dia adalah yang pertama menunjukkan adanya teori relatif segitiga parabola. Tak hanya itu, dia juga mengembangkan metode baru tentang konstruksi segi empat serta perbaikan nilai sinus 30 dengan memakai delapan desimal. Abul Wafa pun mengembangkan hubungan sinus dan formula 2 sin2 (a/2) = 1 - cos a dan juga sin a = 2 sin (a/2) cos (a/2)

Di samping itu, Abul Wafa membuat studi khusus menyangkut teori tangen dan tabel penghitungan tangen. Dia memperkenalkan secan dan cosecan untuk pertama kalinya, berhasil mengetahui relasi antara garis-garis trigonometri yang mana berguna untuk memetakannya serta pula meletakkan dasar bagi keberlanjutan studi teori conic.

Abul Wafa bukan cuma ahli matematika, namun juga piawai dalam bidang ilmu astronomi. Beberapa tahun dihabiskannya untuk mempelajari perbedaan pergerakan bulan dan menemukan "variasi". Dia pun tercatat sebagai salah satu dari penerjemah bahasa Arab dan komentator karya-karya Yunani.

Karya tulis ilmiah

Banyak buku dan karya ilmiah telah dihasilkannya dan mencakup banyak bidang ilmu. Namun tak banyak karyanya yang tertinggal hingga saat ini. Sejumlah karyanya hilang, sedang yang masih ada, sudah dimodifikasi.

Kontribusinya dalam bentuk karya ilmiah antara lain dalam bentuk kitab Ilm al-Hisab (Buku Praktis Aritmatika), Al-Kitab Al-Kamil (Buku Lengkap), dan Kitab al-Handsa (Geometri Terapan).

Abul Wafa pun banyak menuangkan karya tulisnya di jurnal ilmiah Euclid, Diophantus dan al-Khawarizmi, tetapi sayangnya banyak yang telah hilang. Kendati demikian, sumbangsihnya bagi teori trigonometri amatlah signifikan terutama pengembangan pada rumus tangen, penemuan awal terhadap rumus secan dan cosecan. Maka dari itu, sejumlah besar rumus trigomometri tak bisa dilepaskan dari nama Abul Wafa.

Untuk memantau bintang dari observatorium itu, secara khusus Abul Wafa membangun kuadran dinding. Sayang, observatorium tak bertahan lama. Begitu Sultan Sharaf ad-Dawlah wafat, observatorium itu pun lalu ditutup. Sederet karya besar telah dihasilkan Abul Wafa selama mendedikasikan dirinya di istana sultan Buwaih.

Beberapa kitab bernilai yang ditulisnya antara lain; Kitab fima Yahtaju Ilaihi al- Kuttab wa al-Ummal min ‘Ilm al-Hisab sebuah buku tentang aritmatika. Dua salinan kitab itu, sayangnya tak lengkap, kini berada di perpustakaan Leiden, Belanda serta Kairo Mesir. Ia juga menulis “Kitab al-Kamil”.

Dalam geometri, ia menulis “Kitab fima Yahtaj Ilaih as-Suna’ fi ‘Amal al-Handasa”. Buku itu ditulisnya atas permintaan khusus dari Khalifah Baha’ ad Dawla. Salinannya berada di perpustakaan Masjid Aya Sofya, Istanbul. Kitab al-Majesti adalah buku karya Abul Wafa yang paling terkenal dari semua buku yang ditulisnya. Salinannya yang juga sudah tak lengkap kini tersimpan di Perpustakaan nasional Paris, Prancis.

Sayangnya, risalah yang di buatnya tentang kritik terha dap pemikiran Euclid, Diophantus serta Al-Khawarizmi sudah musnah dan hilang. Sungguh peradaban modern berutang budi kepada Abul Wafa. Hasil penelitian dan karya-karyanya yang ditorehkan dalam sederet kitab memberi pengaruh yang sangat signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahun, terutama trigonometri dan astronomi.

Wafatnya Abul Wafawafat

Abul Wafawafat pada 15 Juli 998 di kota Baghdad, Irak. Untuk menghormati pengabdian dan dedikasinya dalam mengembangkan astronomi namanya pun diabadikan di kawah bulan. Di antara sederet ulama dan ilmuwan Muslim yang dimiliki peradaban Islam, hanya 24 tokoh saja yang diabadikan di kawah bulan dan telah mendapat pengakuan dari Organisasi Astronomi Internasional (IAU). Ke-24 tokoh Muslim itu resmi diakui IAU sebagai nama kawah bulan secara bertahap pada abad ke-20 M, antara tahun 1935, 1961, 1970 dan 1976. salah satunya Abul Wafa.

Kebanyakan, ilmuwan Muslim diadadikan di kawah bulan dengan nama panggilan Barat. Abul Wafa adalah salah satu ilmuwan yang diabadikan di kawah bulan dengan nama asli. Kawah bulan Abul Wafa terletak di koordinat 1.00 Timur, 116.60 Timur. Diameter kawah bulan Abul Wafa diameternya mencapai 55 km. Kedalaman kawah bulan itu mencapai 2,8 km.

Lokasi kawah bulan Abul Wafa terletak di dekat ekuator bulan. Letaknya berdekatan dengan sepasangang kawah Ctesibius dan Heron di sebelah timur. Di sebelah baratdaya kawah bulan Abul Wafa terdapat kawah Vesalius dan di arah timur laut terdapat kawah bulan yang lebih besar bernama King. Begitulah dunia astronomi modern mengakui jasa dan kontribusinya sebagai seorang astronom di abad X.

Abul Wafa Muhammad Al Buzjani

Abul Wafa Muhammad Al BuzjaniInformasi Pribadi :

Lahir: 10 Juni, 940 Buzhgan

Meninggal: 997 atau 998 M, Baghdad

Era: Masa keemasan Islam


Kepentingan utama: Matematika dan Astronomi

Gagasan penting: Fungsi Tangent, Hukum sinus, Beberapa identitas trigonometri

Karya-karya besar: Almagest dari Abu al-Wafa

Abu Mahmud Hamid Ahli Sekstan Mural

Abu Mahmud Hamid bin Khidr Khojandi (dikenal sebagai Abu Mahmood Khojandi,
Sextant
Alkhujandi atau al-Khujandi) adalah astronom Asia Tengah dan ahli matematika asal Mongol yang tinggal di akhir abad ke-10 dan membantu membangun sebuah observatorium dekat kota Ray (sekarang Teheran) di Iran.

Al Khunjadi dilahirkan pada tahun 940 di sebuah wilayah yang bernama Khunjand, Kota Khunjand terletak di sepanjang kedua tepi sungai Syrdarya, menuju pintu masuk ke Lembah Fergana yang sangat subur dan menghijau. Sehingga pada masa itu, pertanian di wilayah tersebut cukup maju. Pada masa modern saat ini, kota Khunjand merupakan negara Tajikistan yang terletak di Eropa Timur.

Beberapa fakta tentang kehidupan Khujandi yang diketahui berasal dari tulisan-tulisan yang masih hidup maupun dari komentar yang dibuat oleh seorang ilmuwan sekaligus ahli matematika dari kota Khurasan Iran, Nasiruddin Al-Tusi (Nassereddin Tusi). Dari komentar Tusi itu cukup yakin bahwa Khujandi, selain merupakan seorang ilmuwan yang ahli astronomi dan matematika juga salah satu dari penguasa yang berasal dari keturunan suku Mongol di wilayah Khujand. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa Al Khunjadi berasal dari kaum bangsawan.

Dalam melakukan penelitian maupun pengembangan berbagai macam karya-karya ilmiahnya, Al-Khujandi didukung oleh para anggota dinasti Buwaih. Dinasti Buwaih tersebut sangat berkuasa pada tahun 945 ketika pemimpinnya yang bernama Ahmad ad-Dawlah berhasil menduduki Abbasiyah yang merupakan ibukota Baghdad. Anggota keluarga Ahmad ad-Dawlah sendiri menjadi para penguasa di berbagai provinsi. Sehingga tidak ada banyak perlawanan terhadap Dinasti Buwaih. Al-Khujandi sendiri banyak mendapatkan perlinduangan dari Fakhr ad-Dawlah yang memerintah antara tahun 976 hingga 997.

Selain memberikan perlindungan bagi Al Khunjadi, Fakhr ad-Dawlah juga memberikan dukungan yang kuat terhadap proyek besar yang menjadi obsesi Al-Khujandi untuk membangun sekstan mural yang sangat besar bagi observatoriumnya di Rayy, yang saat ini dekat Kota Teheran, Iran. Para ilmuwan Arab mempercayai bahwa semakin besar alat tersebut maka semakin akurat pula hasil penelitian dan pengamatan yang akan diperoleh. Bahkan sekstan mural penemuan Al-Khujandi tersebut mampu menunjukkan akurasi hingga ke level detik di mana para ilmuwan sebelumnya, belum pernah mendapatkan penemuan seperti itu.

Penelitian Astronomi

Selama tahun 994 Al-Khujandi melakukan berbagai macam penelitian. Dalam sebuah penelitiannya, dia menggunakan instrumen yang sangat besar untuk mengamati serangkaian transit meridian matahari yang dekat dengan titik balik matahari. Dalam pengamatan yang dilakukannya pada tanggal 16 dan 17 Juni tahun 994 dia gunakan untuk melihat titik balik matahari musim panas. Sedangkan pengamatan pada tanggal 14 dan 17 Desember tahun 994, dia gunakan untuk melihat titik balik matahari musim dingin, untuk menghitung arah kemiringan dari Ekliptika, dan lintang dari Rayy. Dia menjelaskan pengukurannya secara rinci dan sangat mendetail dalam sebuah risalah yang berjudul On the obliquity of the ecliptic and the latitudes of the cities (Arah kemiringan dari Ekliptika dan garis lintang kota-kota).

Dari berbagai macam pengamatan dan penelitian yang dia lakukan, Al Khunjadi memperoleh kemiringan sebesar 23 ° 32 '19 " dari Ekliptika. Nilai yang ditemukan Al Khunjadi ini rupanya lebih rendah dari pada nilai-nilai yang diperolehnya pada pengamatan sebelumnya.

Al-Khujandi mengatakan bahwa orang India menemukan kemiring yang paling besar dari Ekliptika yakni sebesar 24 °, sedangkan Ptolemeus menemukan kemiringan sebesar 23 ° 51 ', dan dia sendiri menemukan kemiringan sebesar 23 ° 32' 19 ". Menurut Al Khunjadi, nilai-nilai kemiringan yang berbeda dari Ekliptika ini terjadi bukan karena rusak atau cacatnya instrumen yang digunakan untuk melakukan pengukuran terhadap kemiringan ekliptika. Tetapi, kemiringan dari Ekliptika sendiri, baginya tidak konstan alias berubah-ubah. Hal itu terjadi akibat menurunnya kuantitas.

Namun menurut sejumlah ilmuwan lain, tetap terdapat kesalahan dalam pengamatan dan penghitunga Al-Khujandi saat menilai kemiring dari Ekliptika, di mana dia melakukan penghitungan dua menit terlalu rendah. Kesalahan tersebut dibahas oleh kedua ilmuwan lain yang juga ahli dalam bidang astronomi dan matematika yaitu Al-Biruni dalam Tahdid di mana mereka mengklaim bahwa instrumen yang digunakan oleh Al Khunjadi terlalu berat. Mungkin Al-Biruni benar dalam menunjukkan penyebab kesalahan yang dilakukan oleh Al Khunjadi dalam penghitungannya. Tetapi, penghitungan Al-Khujandi untuk menentukan lintang kota Rayy sebesar 35 ° 34 '38,45 " sangatlah akurat, meskipun dihitung dengan menggunakan nilai yang salah untuk menunjukkan kemiringan dari Ekliptika.

Matematika

Al-Khazin menuliskan, Abu Muhammad al-Khujandi merupakan ilmuwan dan seorang pemikir yang sangat maju dan semoga Allah SWT memberikan berkah kepadanya. Dari demonstrasi yang dilakukan oleh Al Khunjadi bahwa jumlah dari dua bilangan kubik bukanlah sebuah kubus adalah tidak benar. Meski demikian, setidaknya Al Khunjadi merupakan ilmuwan yang tidak pernah menyerah dan terus-menerus melakukan penelitian dan pembelajaran demi kemajuan ilmu pengetahuan. Tanpa adanya sebuah kesalahan, maka peradaban di dunia tidak mungkin mengalami kemajuan.

Dalam matematika Islam, ia menyatakan kasus khusus dari teorema terakhir Fermat untuk n = 3, walaupun bukti-nya tidak sepenuhnya benar. Hukum bola sinus mungkin juga telah ditemukan oleh Khujandi, tetapi tidak pasti apakah ia menemukan pertama kali, atau apakah Abu Nasr Mansur, Abul Wafa atau Nasir al-Din al-Tusi yang menemukan terlebih dahulu? [untuk lebih jelasnya baca: "Pertentangan Tentang Siapa Penemu Teorema Sinus"]

Abu Sahl al-Quhi Ahli Geometri

Abu Sahl al-Qūhī-kompasAbu Sahl bin Wayjan Rustam al-Quhi adalah matematika, fisikawan dan astronom Persia. Beliau berasal dari Kuh (atau Quh), sebuah daerah di Tabaristan, Amol, dan berkembang di Baghdad pada abad ke-10. Ia dianggap sebagai salah satu ahli geometri Muslim terbesar, dengan banyak tulisan tentang matematika dan astronomi berhubungan dengannya.

Hidup di periode dinasti baru

Abu Sahl al-Quhi  dibesarkan selama periode dinasti baru sedang dibentuk yang akan memerintah Iran. Dinasti Buyid Islam memerintah di Iran barat dan Irak 945-1055 pada periode antara penaklukan Arab dan Turki.

Periode ini dimulai pada 945 ketika Ahmad Buyeh menduduki 'Abbasiyah ibukota Baghdad. Titik tertinggi dinasti Buyid adalah pada masa pemerintahan 'ad-Dawlah Adud 949-983. Ia memerintah dari Baghdad atas Iran selatan dan sebagian dari apa yangsekarang disebut Irak. Pelindung besar ilmu pengetahuan dan seni, didukung‘Adud ad-Dawlah sejumlah matematikawan istana di Baghdad, termasuk al-Quhi, Abu'l-Wafa dan al-Sijzi.Pada tahun 969 ‘Adud ad-Dawlah memerintahkan pengamatan dilakukan atastitik balik matahari pada musim dingin dan musim panas di Shiraz.

Pengamatan

Titik balik matahari musim dingin dan musim panas dibuat oleh al-Quhi, al-Sijzidan ilmuwan lain di Shiraz selama 969 - 970.Sharaf ad-Dawlah adalah anak ‘Adud ad-Dawlah dan ia menjadi Khalifah pada tahun 983. Dia terus mendukung matematika dan astronomi sehingga al-Quhi tetap di istana di Baghdad bekerja untuk khalifah baru. Sharaf ad-Dawlah al-Quhi diperlukan untuk melakukan pengamatan dari tujuh planet dan untuk melakukan ini al-Quhi memiliki observatorium yang dibangun di taman istana diBaghdad. Instrumen di observatorium dibangun dirancang sendiri oleh al-Quhidan dipasang setelah gedung itu selesai.

Al-Quhi dijadikan direktur observatorium ini dan secara resmi dibuka pada bulan Juni 988.Sejumlah ilmuwan hadir pada pembukaan. Orang tertentu, matematikawan dan astronom terkenal Abu'l-Wafa, layak disebutkan. Dia juga bekerja di istanaSharaf ad-Dawlah. Yang hadir lainnya pada pembukaan adalah Abu Ishaq al-Sabi. Al-Sabi adalah seorang pejabat peringkat tinggi di Baghdad yang tertarik dalam matematika.

Beberapa pengamatan akurat dilakukan tetapi observatorium berhenti bekerja di tahun 989 pada kematian Sharaf ad-Dawlah. Dinasti Buyid pada tahap ini mulai kehilangan kontrol kekaisaran. Ekonomi berada di bawah, dan pemberontakan di tentara membuat hidup penguasa sulit. Kegiatan budaya seperti sebuah observatorium mengambil prioritas yang lebih rendah. Al-Quhi dalam matematika dia lebih terkenal, menjadi tokoh dalam kebangkitan dan kelanjutan dari geometri Yunani yang lebih tinggi di dunia Islam. Masalah geometris yang dipelajari al-Quhi biasanya untuk persamaan kuadrat atau persamaan kubik.

Abu Sahl al-Quhi adalah pemimpin dari para astronom yang hidup di 988 AD di observatorium yang dibangun oleh Buwaihi Sharaf al-Dawla di Badhdad. Dia menulis sebuah risalah pada astrolabe di mana ia memecahkan sejumlah masalah geometris yang sulit.

Dalam matematika dia mencurahkan perhatiannya kepada masalah Archimedes dan Apollonian yang mengarah ke persamaan lebih tinggi dari derajat kedua. Dia memecahkan beberapa masalah yang membahas kondisi solvabilitas. Misalnya, ia mampu memecahkan masalah dari inscribing pentagon biasa menjadi persegi, sehingga persamaan derajat keempat. Ia juga menulis sebuah risalah tentang "kompas yang sempurna", kompas dengan satu kaki panjang variabel yang memungkinkan untuk menarik irisan kerucut : garis lurus, lingkaran, elips, parabola dan hiperbola. Sangat mungkin bahwa al-Quhi menemukan perangkat. [Sumber : Wikipedia]

Monday, May 9, 2016

Abu Nasr Mansur penemu hukum sinus

hukum sinusAbu Nasr Mansur bin Ali bin Irak adalah matematika Muslim dari  Persia. Ia banyak dikenal
untuk penemuannya tentang hukum sinus.

Sebagian besar pekerjaan Abu Nasr fokus pada matematika, tapi beberapa tulisannya yang pada astronomi Dalam matematika, ia memiliki banyak tulisan penting pada trigonometri, yang dikembangkan dari tulisan Ptolemy. Ia juga memelihara karya Menelaus dari Alexandria dan mengerjakan kembali banyak teorema Yunani.

Biografi

Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab disapa Abu Nasr Mansur (960 M - 1036 M). Keluarganya "Banu Iraq" menguasai wilayah Khawarizm (sekarang, Kara-Kalpakskaya, Uzbekistan). Khawarizm merupakan wilayah yang berdampingan dengan Laut Aral. Dia menjadi seorang pangeran dalam bidang politik.

Di Khawarizm, Abu Nasr Mansur menuntut ilmu dan berguru pada seorang astronom dan ahli matematika Muslim terkenal Abu'l-Wafa (940 M - 998 M). karena kecerdasanya, Abu Nasr dengan mudah menguasai matematika dan astronomi. Kehebatannya itu pun menurun pada muridnya, yakni Al-Birunn (973 M - 1048 M).

Al-Biruni tak hanya menjadi muridnya saja, tapi juga menjadi koleganya yang sangat penting dalam bidang matematika. Mereka bekerja sama menemukan rumus-rumus serta hukum-hukum yang sangat luar biasa dalam matematika. Kolaborasi kedua ilmuwan itu telah melahirkan sederet penemuan yang sangat hebat dan bermanfaat bagi peradaban manusia.

Perjalanan kehidupan Abu Nasr dipengaruhi oleh situasi politik yang kurang stabil. Akhir abad ke-10 M hingga awal abad ke-11 M merupakan periode kerusuhan hebat di dunia Islam. Saat itu, terjadi perang saudara di kota sang ilmuwan menetap. Pada era itu, Khawarizm menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Samaniyah.

Perebutan kekuasaan di antara dinasti-dinasti kecil di wilayah Asia Tengah itu membuat situasi politik menjadi kurang menentu. Pada 995 M, kekuasaan Banu Iraq digulingkan. Saat itu, Abu Nasr Mansur menjadi pangeran. Tidak jelas apa yang terjadi pada Abu Nasr Mansur di negara itu, namun yang pasti muridnya al-Biruni berhasil melarikan diri dari ancaman perang saudara itu.

Setelah peristiwa itu, Abu Nasr Mansur bekerja di istana Ali ibnu Ma'mun dan menjadi penasihat Abu'l Abbas Ma'mun. Kehadiran Abu Nasr membuat kedua penguasa itu menjadi sukses.

Ali ibnu Ma'mun dan Abu'l Abbas Ma'mun merupakan pendukung ilmu pengetahuan. Keduanya mendorong dan mendukung Abu Nasr mengembangkan ilmu pengetahuan. Tak heran jika ia menjadi ilmuwan paling top di istana itu. Karya-karyanya sangat dihormati dan dikagumi.

Abu Nasr Mansur menghabiskan sisa hidupnya di istana Mahmud di Ghazna. Ia wafat pada 1036 M di Ghazni, sekarang Afghanistan. Meski begitu, karya dan kontribusianya bagi pengembangan sains tetap dikenang sepanjang masa.

Kontribusi

Abu Nasr Mansur telah memberikan kontribusi yang penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Sebagian Karya Abu Nasr fokus pada bidang matematika, tapi beberapa tulisannya juga membahas masalah astronomi.

Dalam bidang matematika, dia memiliki begitu banyak karya yang sangat penting dalam trigonometri. Abu Nasr berhasil mengembangkan karya-karya ahli matematika, astronomi, geografi dan astrologi Romawi bernama Claudius Ptolemaeus (90 SM – 168 SM).

Dia juga mempelajari karya ahli matematika dan astronom Yunani, Menelaus of Alexandria (70 SM – 140 SM). Abu Nasr mengkritisi dan mengembangkan teori-teori serta hukum-hukum yang telah dikembangkan ilmuwan Yunani itu.

Kolaborasi Abu Nasr dengan al-Biruni begitu terkenal. Abu Nasr berhasil menyelesaikan sekitar 25 karya besar bersama al-Biruni. Sekitar 17 karyanya hingga kini masih bertahan.

Dalam bidang Matematika, Abu Nasr memiliki tujuh karya, sedangkan sisanya dalam bidang astronomi. Semua karya yang masih bertahan telah dipublikaskan, telah dialihbahasakan kedalam bahasa Eropa, dan ini memberikan beberapa indikasi betapa sangat pentingnya karya sang ilmuwan Muslim itu.

Secara khusus Abu Nashr mempersembahkan sebanyak 20 karya kepada muridnya al-Biruni. Salah satu adikarya sang saintis Muslim ini adalah komentarnya dalam The Spherics of Menelaus.

Perannya sungguh besar dalam pengembangan trigonometri dari perhitungan Ptolemy dengan penghubung dua titik fungsi trigonometri yang hingga kini masih tetap digunakan. Selain itu, dia juga berjasa dalam mengembangkan dan mengumpulkan tabel yang mampu memberi solusi angka yang mudah untuk masalah khas spherical astronomy (bentuk astronomi).

Abu Nasr juga mengembangkan The Spherics of Menelaus yang merupakan bagian penting, sejak karya asli Menelaus Yunani punah. Karya Menelaus berasal dari dasar solusi angka Ptolemy dalam masalah bentuk astronomi yang tercantum dalam risalah Ptolemy bertajuk Almagest.

Karyanya di dalam tiga buku: buku pertama mempelajari kandungan/kekayaan bentuk segitiga, buku kedua meneliti kandungan sistem paralel lingkaran dalam sebuah bola/bentuk mereka memotong lingkaran besar, buku ketiga memberikan bukti dalil Menelaus.
Pada karya trigonometrinya, Abu Nasr Mansur menemukan hukum sinus sebagai berikut:

a/sin A = b/sin B = c/sin C.

Abu Hamid Ahmed ilmuan pengetahuan

bookAbu Hamid Ahmed bin Mohammed al-Saghani al-Asturlabi (artinya: astrolabe buatan Saghan,
dekat Merv) adalah astronom Persia dan sejarawan ilmu pengetahuan. Ia berkembang di Baghdad, dan meninggal pada 379-380 H / 990 M.

Al-Saghani merupakan seorang penemu dan pembuat instrumen, ia bekerja di observatorium Sharaf al-dawlah dan mungkin, telah membangun instrumen yang digunakan di sana. Penelitiannya meliputi pembagian sudut.

Sejarah ilmu

Al-Asturlabi menulis beberapa komentar awal pada sejarah ilmu pengetahuan. Ini termasuk perbandingan antara "kuno" (termasuk Babilonia kuno, Mesir, Yunani, dan India ) dan "sarjana modern" (para ilmuwan Muslim pada masanya):

"Orang dahulu membedakan diri melalui penemuan prinsip-prinsip dasar dan ide penemuan. Para ulama modern, di sisi lain, membedakan diri melalui penemuan banyak detail ilmiah, penyederhanaan sulit (masalah), kombinasi tersebar (informasi), dan penjelasan (bahan yang sudah ada) koheren (bentuk). Dahulu prestasi khusus mereka berdasarkan prioritas mereka dalam waktu, dan tidak pada rekening setiap kualifikasi alami dan kecerdasan. Namun, begitu banyak penemuan mereka yang lolos, yang kemudian menjadi penemuan asli sarjana modern." (sumber: Wikipedia)

Penghitung arah mekah dengan fungsi tangen-al-Nairizi

Al-NayriziAbu'l-Abbas al-Fadl bin Hatim al-Nairizi atau dalam Latin dikenal dengan Anaritius, Nazirius,
adalah matematikawan Persia dan astronom dari Nayriz, Fars Province, Iran abad ke-9-10.Ia hidup pada masa Khalifah al-Mu'tadid (892-902), menyusun tabel astronomi, dan menulis sebuah buku untuk al-Mu'tadid tentang fenomena atmosfer.

Nayrizi menulis komentar tentang karya Ptolemy dan Euclid. Yang terakhir yang diterjemahkan oleh Gerard of Cremona. Nairizi menggunakan apa yang disebut umbra (versa), setara dengan tangen, sebagai garis trigonometri asli (namun sebelumnya hal tersebut sudah diungkapkan oleh ilmuwan persia lainnya yakni al-Marwazi yang merupakan penggagas pertamakali Sin, Cos dan Tan). Nayrizi memberikan bukti teorema Pythagoras menggunakan ubin Pythagoras.

Dia menulis sebuah risalah pada lingkaran astrolabe yang sangat rumit, yang merupakan karya terbaik Persia pada subjek. Hal ini dibagi menjadi empat buku yakni:

1. Sejarah dan pengantar kritis.
2. Deskripsi bola astrolabe; keunggulannya atas pesawat astrolab dan semua instrumen astronomi lainnya.
3. Aplikasi.
4. Aplikasi.

Hidup pada masa Khalifah al-Mu'tadid

Al-Nayrizi telah bekerja  di pemerintahan al-Mu'tadid selama sepuluh tahun, ia menulis beberap karya untuk khalifah tentang fenomena meteorologi dan instrumen untuk mengukur jarak ke obyek. Namun pada tahun 902 al-Mu'tadid diracun oleh musuh politiknya sehingga Putra al Al-Mu'tadid, Al-Muktafi menggantikan posisi ayahnya untuk menjadi dan berkuasa antara tahun 902-908. Akhirnya al-Nayrizi terus bekerja di Baghdad untuk khalifah baru sejak dukungan yang sama bagi para intelektual di Baghdad.

The Fihrist (Index) adalah sebuah karya yang disusun oleh penjual buku Ibnu an-Nadim di tahun 988. Ini memberikan laporan lengkap dari sastra bahasa Arab abad ke-10 dan secara khusus menyebutkan bahwa al-Nayrizi sebagai astronom. Delapan hasil kerja dengan nama al-Nayrizi terdaftar dalam Fihrist. Pada abad ke-13sebuah karya kemudian ditulis yang menggambarkan al-Nayrizi baik sebagai astronom maupun sebagai ahli geometri terkemuka.

Karya Al-Nayrizi tentang astronomi termasuk komentar tentang karya Ptolemy's Almagest dan Tetrabiblos, Tidak selamat. Ia paling terkenal karena komentarnya tentang Elemen Euclid yang telah bertahan. Naskah Leiden dimaksud dalam judul yang berisi revisi oleh al-Nayrizi dari terjemahan Arab kedua Elemen Euclid oleh al-Hajjaj.

Terjemahan al-Hajjaj tidak bertahan, dan artikel ini meneliti sejauh mana terjemahan al-Nayrizi berubah, dengan alasan bahwa memang ia membuat perubahan besar. Makalah ini melihat versi naskah yang berbeda yang berisi komentar al-Nayrizi, beberapa dalam bahasa Arab, salah satunya versi Latin.

Dalam berurusan dengan rasio dan proporsi dalam komentarnya pada Element, al-Nayrizi mengadopsi konsep yang diusulkan oleh al-Mahani yang pernah bekerja di Baghdad, mungkin sebelum al-Nayrizi tiba di sana.

Al-Nayrizi menulis sebuah karya tentang cara menghitung arah Ka'bah di Mekah (hal itu penting bagi umat Islam, karena setiap muslim harus menghadap arah (ka'bah sebagai kiblat) itu lima kali setiap hari saat melakukan shalat). Dalam karya ini ia secara efektif menggunakan fungsi tan, meski ia bukan orang pertama yang menggunakan ide-ide trigonometri. (en.wikipedia.org dan berbagai sumber)

Tuesday, May 3, 2016

Habash al-Hasib al-Marwazi Penemu Rumus Trigonometri

Habash al-Hasib al-Marwazi lahir setelah tahun 869 di Samarra, Irak, Ia berkembang di Baghdad, dan meninggal di centenarian setelah tahun 869. Beliau hidup saah kekhalifahan Abbasiyah al-Ma'mun dan al-Mu'tasim.

Astronomi
rumus trigonometri

Selama tahun 825-835, al-Marwazi membuat pengamatan dengan menyusun tiga tabel astronomi yakni:
  • Pertama masih dengan cara Hindu
  • Kedua, disebut 'mengiuji "tabel, tabel ini cenderung identik dengan "Ma'munic"atau "tabel Arab" dan mungkin sebuah karya kolektif astronom al-Ma'mun, 
  • Yang ketiga, yang disebut tabel Shah, yang lebih kecil.
  • Pada tahun  829 Ia melakukan penelitian yang berhubungan dengan gerhana matahari, Habash memberi kita contoh pertama dari penentuan waktu dengan ketinggian (dalam hal ini, matahari); metode yang umumnya diadopsi oleh para astronom Muslim.
Matematika

Pada 830, ia telah memperkenalkan konsep "bayangan," umbra (versa), setara dengan singgung di trigonometri, dan ia menyusun tabel bayangan yang menjadi awal dari jenisnya. Dia juga memperkenalkan kotangen, dan menghasilkan tabel pertama untuk itu.

Kitab Badan dan Jarak
Al-Hasib melakukan berbagai pengamatan di observatorium Al-Shammisiyyah di Baghdad dan memperkirakan sejumlah nilai geografis dan astronomi. Dia mengumpulkan hasil dalam Kitab Badan dan Jarak, di mana beberapa dari hasil meliputi: 
Bumi (Earth)
  • Keliling bumi (Earth's circumference): 20,160 mil (32,444 km)
  • Diameter bumi (Earth's diameter): 6414.54 mil (10323.201 km)
  • Jari-jari Bumi (Earth radius): 3207.275 mil (5161.609 km)
Bulan (Moon)
  • Diameter Bulan (Moon's diameter): 1886.8 mil (3036.5 km)
  • Keliling Bulan (Moon's circumference): 5927.025 mil (9538.622 km)
  • Radius jarak terdekat dari Bulan (Radius of closest distance of Moon): 215,208;9,9 (sexagesimal) miles
  • Setengan-keliling jarak terdekat dari Bulan (Half-circumference of closest distance of Moon): 676,368;28,45,25,43 (sexagesimal) mil
  • Radius jarak terjauh Bulan (Radius of furthest distance of Moon): 205,800;8,45 (sexagesimal) mil
  • Diameter jarak terjauh Bulan (Diameter of furthest distance of Moon): 411,600.216 miles (662,406.338 km)
  • Keliling jarak terjauh Moon (Circumference of furthest distance of Moon): 1,293,600.916 miles (2,081,848.873 km)
Matahari (Sun)
  • Diameter Matahari (Sun's diameter): 35,280;1,30 mil (56,777.6966 km)
  • Keliling Matahari (Sun's circumference): 110,880;4,43 mil (178,444.189 km)
  • Diameter orbit Matahari (Diameter of orbit of Sun): 7,761,605.5 mil (12,491,093.2 km)
  • Kelilng orbit Matahari (Circumference of orbit of Sun): 24,392,571.38 mil (39,256,038 km)
  • Satu derajat sepanjang orbit Matahari (One degree along orbit of Sun): 67,700.05 mil (108,952.67 km)
  • Satu menit sepanjang orbit Matahari (One minute along orbit of Sun): 1129.283 mil (1817.405 km)

Al-Mahani Penemu Matekiawan Dan Astronom

al mahaniAbu-Abdullah Muhammad bin Isa Mahani (ابوعبدالله محمد بن عیسی ماهانی) adalah
matematikawan dan astronom Muslim dari Mahan, Kerman, Persia. Beliau adalah salah satu penulis modern yang memiliki gagasan tentang pemecahan teorema yang digunakan oleh Archimedes dari risalah tentang bola dan silinder aljabar.
Serangkaian pengamatan gerhana bulan dan matahari dan konjungsi planet yang dibuat oleh Al-Mahani sekitar tahun  853-866 digunakan pula oleh Ibn Yunus.

Al-Mahani menulis komentar tentang karya  Euclid dan Archimedes. Dia pernah mencoba untuk memecahkan masalah Archimedes: untuk membagi bola dengan menggunakan pesawat menjadi dua segmen berada di rasio tertentu dari volume. Masalah tersebut menyebabkan persamaan kubik, Berikut persamaan yang dibuat oleh Al-Mahani:
Rumus Al-Mahani





Sumber: Al-Mahani

Al Khazin Penemu Astronomi Dan Matematika

Ilustrasi Al Khazin
Abu Ja'far Muhammad bin Muhammad Al-Husayn Al-Khurasani Al Khazin atau lebih dikenal dengan nama Al Khazin adalah seorang ahli matematika terkemuka di dunia Islam yang lahir dari wilayah Marv, Khurasan, Iran. 
Tidak diketahui secara pasti tahun kelahiran tokoh ini. Akan tetapi, para sejarawan memperkirakan Al-Khazin meninggal dunia antara 961 dan 971 Masehi. Selain dikenal sebagai ahli matematika, semasa hidup ia juga seorang fisikawan dan astronom yang disegani. 
Di dunia Barat, Al-Khazin dikenal sebagai Alkhazen. Ejaan dalam bahasa Eropa menyebabkan ketidakjelasan identitas antara dia dan Hasan bin Ibnu Haitsam.
Hal inilah yang merupakan salah satu penyebab nama Al-Khazin sedikit tenggelam. Al-Khazin merupakan ilmuwan zuhud. Dia menjalani hidup sederhana dalam hal makanan, pakaian, dan sebagainya. Ia sering menolak hadiah para penguasa dan pegawai kerajaan agar tidak terlena oleh kesenangan materi.


Matematika

Beberapa guru tenar menghiasi rekam jejak Al-Khazin saat masih menimba ilmu. Salah satu gurunya bernama Abu Al-Fadh bin Al-Amid, seorang menteri pada masa Buwayhi di Rayy. Al-Khazin menuangkan pemikirannya dalam sejumlah risalah bidang matematika dan telah memperkaya khazanah keilmuan di dunia Islam.

Sebut saja, misalnya Kitab al-Masail al-Adadiyya yang di dalamnya tercantum karya Ibnu Majah, yaitu al-Fihrist edisi Kairo, Mesir. Karyanya yang paling terkenal adalah Matalib Juziyya mayl alMuyul al-Juziyya wa al-Matali fi al-Kuraal Mustakima. Seluruh kemampuan intelektualnya dia curahkan pada karya ini.

Termasuk perhitungan rumus teorema sinus untuk segitiga. Seperti tercantum dalam buku al-Fihrist edisi Kairo, AlKhazin pernah memberikan komentar ilmiah terhadap buku Element yang ditulis ilmuwan Yunani, Euclides, termasuk bukti-bukti yang diuraikannya menyangkut kekurangan serta kelemahan pemikiran Euclides.

Kontribusi luar biasa Al-Khazin mencakup peragaan rumus untuk mengetahui permukaan segitiga sebagai fungsi sisisisinya. Ia mengambil metode penghitungan setiap sisi kerucut. Dengan itu, dirinya berhasil memecahkan bentuk persamaan x3 + a2b = cx2. Di ranah matematika, persamaan itu sangat terkenal.

Ini merupakan sebuah soal matematika rumit yang diajukan oleh Archimedes dalam bukunya The Sphere and the Cylinder. Sayangnya, seperti disebutkan pada buku Seri Ilmuwan Muslim Pengukir Sejarah, sekian banyak teks dan risalah ilmiah Al-Khazin tak banyak tersisa pada masa kini.

Hanya beberapa saja yang masih tersimpan, di antaranya komentarnya terhadap buku ke10 dari Nasr Mansur dalam Rasail Abi Nasr ila al-Biruni. Jejak keilmuan Al-Khazin juga dapat ditelusuri dalam lingkup astronomi. Dia mengukir prestasi gemilang melalui karyakaryanya. Salah satu yang berpengaruh adalah buku berjudul Zij as Safa'ih.

Al-Khazin mempersembahkan karya itu untuk salah satu gurunya, Ibnu Al Amid. Ia juga membahas tentang peralatan astronomi untuk mengukur ketebalan udara dan gas (sejenis aerometer). Saat nilai ketebalan bergantung pada suhu udara, alat ini merupakan langkah penting dalam mengukur suhu udara dan membuka jalan terciptanya termometer.

Manuskrip karya Al-Khazin tersebut tersimpan di Berlin, Jerman, namun hilang ketika berkecamuk Perang Dunia II. Oleh astronom terkemuka, Al-Qifti, karya itu dianggap sebagai subyek terbaik dan sangat menarik untuk dipelajari. Buku Zij as Safa'ih menuai banyak pujian dari para ilmuwan.

Astronomi

Menurut Al-Biruni, beragam mekanisme teknis instrumen astronomi berhasil diurai dan dijelaskan dengan baik oleh Al-Khazin. Tokoh ternama ini pun kagum atas sikap kritis Al-Khazin saat mengomentari pemikiran Abu Ma'syar dalam hal yang sama. Tokoh lain yang menyampaikan komentarnya adalah Abu Al-Jud Muhammad Al-Layth.

Ia menyatakan, pendapat Al-Khazin mengenai cara menghitung rumus chord dari sudut satu derajat. Dalam Zij disebutkan, soal itu bisa dihitung apabila chord dibagi menjadi tiga sudut. Sementara itu, Abu Nash Mansur memberikan koreksi atas sejumlah kekurangan yang terdapat pada karya Al-Khazin itu.

Penetapan inklanasi ekliptika tak luput dari perhatian Al-Khazin. Persoalan astronomi ini sudah mengemuka sejak zaman Archimedes. Para ilmuwan Muslim seperti Al-Mahani, meninggal pada 884 Masehi, yang pertama mengangkat kembali tema ini. Oleh AlKhazin, hal itu kembali dipelajari dan dia berhasil menjabarkannya dengan baik.

Menurut Al-Khazin, pembagian bola dengan sebuah bidang datar dalam satu rasio ditentukan dengan menyelesaikan persamaan pangkat tiga. Demikian ilmuwan ini menyelesaikan soal astronomi tadi yang segera mendapatkan pujian dari astronom-astronom lainnya.

Terdapat beberapa aspek penting yang dikupas oleh Al-Khazin dalam buku astronomi yang ia tulis. Dalam Zij, ia menunjukkan penetapan titik derajat tengah atau cakrawala yang kemiringannya tidak diketahui sebelumnya. Ia juga mampu menghitung sudut matahari melalui penentuan garis bujur.

Sumbangsih lain adalah menyangkut penentuan azimut atau ukuran sudut arah kiblat dengan memakai peralatan tertentu. Al-Khazin berhasil mengenalkan metode hitung segitiga sferis. Komentar-komentarnya cukup mendalam terhadap karya astronomi lain, misalnya, ia pernah menulis sebuah komentar atas Almagest karya Ptolemeus.

Subjek yang ia bahas adalah tentang sudut kemiringan ekliptik. Sebelumnya, rumus itu dikenalkan Banu Musa pada 868 Masehu di Baghdad, Irak. Ia juga mencermati hasil pengamatan Al Mawarudzi, Ali bin Isa Al-Harrani, dan Sanad bin Ali. Hal ini terkait dengan penentuan musim semi dan musim panas. Sementara itu, melalui tulisannya yang berjudul Sirr al-Alamin, Al-Khazin mengembangkan lebih jauh gagasan-gagasan dari Ptolemeus yang terdapat pada buku Planetary.

Keahlian Al Khazin dalam menyajikan rumus dan metode perhitungan untuk menguraikan soal-soal rumit begitu dikagumi dan dijadikan rujukan hingga berabad-abad kemudian.

Sumber:
Mengenal Al Khazin, Ahli Matematika dan Astronomi Islam

Abul-Hasan bin Kushyar Dan Abu Sa'id Zarir Gorgani

Ilustrasai ILmuan Muslim
Abul-Hasan bin Kushyar Labban ibn Bashahri Gilani, juga dikenal sebagai Kushyar Gilani adalah seorang matematika Persia, ahli geografi, dan astronom dari Gilan, Laut Kaspia selatan, Iran

Karya utamanya mungkin dilakukan sekitar awal abad kesebelas, Ia banyak melakukan penelitian dalam bagian penting dalam pengembangan trigonometri. Misalnya, ia melanjutkan penyelidikan dari Abul Wafa, dan mencurahkan banyak waktu dalam bukunya zij (kumpulan tabel) az-Zij al-Jami wal-Baligh ("tabel komprehensif dan matang"), yang memasukkan nilai-nilai yang lebih baik dari apogees planet yang diamati oleh al-Battani .

Tabel diterjemahkan ke dalam bahasa Persia sebelum akhir abad ini. Dia juga menulis pengenalan astrologi dan sebuah risalah aritmatika Kitab fi usul hisab al-belakang ( Prinsip Reckoning Hindu, masih ada dalam bahasa Arab dan Ibrani).

Dia adalah guru dari Ahmad Nasawi. Ia diperkirakan telah meninggal di Baghdad.


Matematika
Abu Sa'id Zarir Gorgani
Abu Sa'id Zarir Gorgani (Persia : ابوسعيد ضرير گرگانی), juga dieja Gorgani, adalah matematikawan Persia abad ke-9 dan astronom dari Gorgan, Iran. Dia menulis sebuah risalah tentang masalah geometri dan meridian. (Sumber: Wikipedia)




Abd al-Rahman al-Sufi


Konstelasi Sagitarius dari  The Depiction Celestial Constellation.
'Abd al-Rahman al-Sufi adalah seorang astronom Muslim Persia yang juga dikenal sebagai 'Abd ar-Rahman as-Sufi, atau 'Abd al-Rahman Abu al-Husain,' Abdul Rahman Sufi, 'Abdurrahman Sufi dan di barat dikenal sebagai Azophi. Kawah bulan Azophy dan planet kecil as-Sufi diambil dari namanya.



Biografi

Abd ar-Rahman bin Umar al-sufi Abul Husayn lahir di Rayy Persia pada tanggal 14 Muharram 291 H/5 Desember 903 M. Beliau hidup di bawah pemerintahan Adud al-Dawla. Bahkan beliau tinggal di istana raja yang bertempat di Isfahan, Persia. Pada masanya beliau dikenal sebagai seorang astronom cemerlang dan merupakan salah satu cendikiawan kebanggaan sang maharaja di antara "tiga bintang". Dua lainnya adalah al-Farisi seorang ahli tata bahasa dan Ibnu al-Alam seorang pakar tentang tabel-tabel astronomi.

Pekerjaan beliau adalah menerjemahkan dan memperluas karya-karya astronom Yunani, terutama "Almagest" dari Ptolemaios, serta melakukan  koreksi terhadap daftar bintang Ptolemy. Bahkan beliau mendapat posisi sebagai penterjemah utama Astronomi Helenistik yang telah berpusat di Alexandria ke dalam bahasa Arab. Hal terbesar yang beliau lakukan adalah menghubungkan nama-nama bintang menurut penelitian yunani dan bangsa arab, serta rasi bintangnya.

Abd ar-Rahman bin Umar al-sufi Abul Husayn wafat pada tanggal 13 Muharram 376 H/25 Mei 986 M, di Shiraz, Iran.

Karya Terkenal

Karya as-Sufi yang paling terkenal adalah Kitab al-Kawakib ats-Tsabit al-Musawwar, sebuah katalog bintang yang dibuat berdasarkan pengamatannya sendiri. Katalog ini merupakan atlas bintang pertama yang membahas tentang nebula pada rasi Andromeda, sekaligus atlas bintang paling penting karena mengungkap sejumlah perubahan yang dialami beberapa bintang utama dalam waktu sepuluh abad. As-Sufi mendedikasikan buku yang ditulisnya sekitar tahun 965 (355 H) ini kepada Buyld Emir Adud al-Dawla.

Kitab al-Kawakib ats-Tsabit al-Musawwar adalah salah satu manuskrip berilustrasi paling tua yang mengupas beberapa temuan Ptolomeus. Ilustrasinya dibuat begitu menarik untuk menggambarkan konstelasi atau tatanan bintang yang terlebih dahulu telah disusun oleh Utarid bin Muhammad. Namun, ada pula sumber lain yang menyebutkan bahwa Kitab al-Kawakib ats-Tsabit al-Musawwar adalah buku terjemahan dari sejumlah naskah ilmiah Yunani, seperti Almagest karya Ptolomeus. Jika keduanya dibandingkan, karya astronomi Yunani yang penuh simbol-simbol astronomi memang hampir mirip dengan tatanan bintang dalam buku karya as-Sufi tersebut. Namun jika diperhatikan lebih seksama, terlihat bahwa ilustrasi tatanan bintang tersebut berwujud figur tokoh terkemuka yang dibentuk dari rangkaian sejumlah titik merah. Kini, manuskrip awal karya as-Sufi tersebut masih tersimpan di Perpustakaan Bodleian, setelah sebelumnya disalin, diilustrasi kembali, dan dikaligrafi oleh salah satu putra as-Sufi (1009 - 1010).

Selain karya di atas, masih banyak karya as-Sufi yang diilustrasi kembali dengan gaya dan judul yang berbeda sesuai perkembangan zaman. Sebuah teks dan terjemahan kata pengantarnya pernah diterbitkan oleh Caussin de Parceval dengan judul Notices at Extraits, sedangkan oleh H.C.F.C. Schjellerup dengan judul Description des Etoiles Fixes par Abd al-Rahman as-Sufi (St. Petersburg, 1874). Pada tahun 1953, naskah yang sama diterbitkan dalam bahasa Arab, setelah manuskripnya yang berada di Paris disunting terlebih dahulu oleh M. Nazamuddin.

As-Sufi juga pernah menulis sebuah buku pegangan tentang astronomi dan astrologi, serta sebuah risalah tentang astrolobe. Selain menulis, as-Sufi juga pernah membuat sebuah peta bumi dari bahan perak. Ia mempersembahkan peta ini untuk Raja Adud al-Dawla. Kini, peta tersebut tersimpan di Perpustakaan Istana Dinasti Fatima di Kairo.

Beberapa perjuangan beliau yang lain diantaranya:
  • Mengidentifikasi "The Large Magellanic Cloud" yang pada waktu itu hanya bisa dilihat di daerah Yaman. Dan baru bisa dilihat di daratan eropa setelah pelayaran Magellan di abad ke-16.
  • Beliau merupakan pengamat pertama perihal galaxy andromeda pada tahun 964 M.
  • Meneliti perihal eliptika pesawat yang cenderung terhadap ekuator langit.
  • Perhitungan yang sangat akurat perihal perhitungan masa tahun tropis.
  • Beliau mengamati dan menggambarkan bintang-bintang, posisinya, besarnya bahkan sampai warnanya. Untuk setiap rasi beliau menyediakan dua gambar. Satu gambar terlihat dari bagian luar dan satu gambar yang lain terlihat dari bumi.
  • As-Sufi juga merupakan seorang yang paling pertama yang mendeskripsikan lebih dari 1000 perbedaan astrolabe, seperti: astronomi, navigasi, survey, ketepatan waktu, kiblat dan lain sebagainya. Dan masih banyak lagi hasil hasil perjuangan beliau yang belum bisa disebutkan.
  • Beliau merupakan salah seorang astronom yang sangat terkenal. Salah satu karya beliau yang menjadi masterpiece adalah Kitab Suwar al-Kawakib al-Thabita dan dalam bahasa inggrisnya berjudul Fixed Star (antara tahun 903 dan 986). Buku ini mendeskripsikan perihal tata letak bintang-bintang yang selalu pada posisinya.
Menurut sumber Islam dan Muslim Art, bahwa kitab astronom ini merupakan terjemahan dan adaptasi dari sejumlah naskah-naskah ilmiah unani semisal "Almagest" dari Ptolemaios, "Farnese Atlas" dan "Phenomena" nya Aratus. Di dalam buku ini disajikan pula dalam bentuk penampilan figur atau tokoh-tokoh terkemuka yang ditandai dengan titik-titik merah sebagai tanda bintang-bintang.

Manuskrip awalnya masih bisa kita temukan di perpustakaan bodleian. Manuskrip itu disalin, diilustrasi dan dikaligrafi oleh putranya sendiri pada tahun 1009-1010. Teks dan terjemahan kata pengantarnya pernah diterbitkan oleh Caussin de Perceval, dengan judul "Notices at Extraits" juga oleh H.C.F.C. Schjellerup dengan judul "Description des etoiles par Abd Al-Rahman as-Sufi", St. petersburg 1874.

Karya-karya lainnya yang masih ada, antara lain berupa sebuah buku pegangan (handbook) tentang astronomi dan astrologi. Adapula sebuah risalah mengenai penggunaan astrolabe. Sebuah peta bumi terbuat dari perak buatannya yang dipersembahkan kepada sang raja Adud Dawla juga telah dimuseumkan dalam perpustakaan Istana Dinasti Fatima di Kairo.
Sumber:

Al-Khawarizmi Penemu Angka Bilangan Nol

Al-Khawarizmi (Khawarizm,Uzbekistan, 194 H/780 M-Baghdad, 266 H/850 M) adalah Ilmuwan muslim, ahli di bidang ilmu matematika, astronomi, astrologi, dan geografi. Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi dan di barat ia lebih dikenal dengan nama Algoarisme atau Algorisme. Dalam bukunya al-Khawarizmi memperkenalkan kepada dunia ilmu pengetahuan angka 0 (nol) yang dalam bahasa arab disebut sifr. Sebelum al-Khawarizmi memperkenalkan angka nol, para ilmuwan mempergunakan abakus, semacam daftar yang menunjukkan satuan, puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya, untuk menjaga agar setiap angka tidak saling tertukar dari tempat yang telah ditentukan dalam hitungan. Akan tetapi, hitungan seperti ini tidak mendapat sambutan dari kalangan ilmuwan Barat ketika itu dan mereka lebih tertarik untuk mempergunakan raqam al-binji (daftar angka arab, termasuk angka nol), hasil penemuan al-khawarizmi. Dengan demikian angka nol baru dikenal dan dipergunakan orang Barat sekitar 250 tahun setelah ditemukan al-Khawarizmi. Hampir sepanjang hidupnya, ia bekerja sebagai dosen di Sekolah Kehormatan di Baghdad. 
Buku pertamanya, al-Jabar, adalah buku pertama yang membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat. Sehingga ia disebut sebagai Bapak Aljabar. Translasi bahasa Latin dari Aritmatika beliau, yang memperkenalkan angka India, kemudian diperkenalkan sebagai Sistem Penomoran Posisi Desimal di dunia Barat pada abad ke 12. Ia merevisi dan menyesuaikan Geografi Ptolemeus sebaik mengerjakan tulisan-tulisan tentang astronomi dan astrologi.
Kontribusi beliau tak hanya berdampak besar pada matematika, tapi juga dalam kebahasaan. Kata Aljabar berasal dari kata al-Jabr, satu dari dua operasi dalam matematika untuk menyelesaikan notasi kuadrat, yang tercantum dalam buku beliau. Kata algorisme dan algoritma diambil dari kata Algorismi, Latinisasi dari nama beliau. Nama beliau juga di serap dalam bahasa Spanyol Guarismo dan dalam bahasa Portugis, Algarismo yang berarti digit. Nama algoritma diambil dari nama julukan penemunya yaitu al-Khawarizmi.

Biografi

Sedikit yang dapat diketahui dari hidup beliau, bahkan lokasi tempat lahirnya sekalipun. Nama beliau mungkin berasal dari Khwarizm (Khiva) yang berada di Provinsi Khurasan pada masa kekuasaan Bani Abbasiyah (sekarang Xorazm, salah satu provinsi Uzbekistan). Gelar beliau adalah Abū ‘Abdu llāh (Arab: أبو عبد الله) atau Abū Ja’far.

Sejarawan al-Tabari menamakan beliau Muhammad bin Musa al-Khwārizmī al-Majousi al-Katarbali (Arab: محمد بن موسى الخوارزميّ المجوسيّ القطربّليّ). Sebutan al-Qutrubbulli mengindikasikan beliau berasal dari Qutrubbull, kota kecil dekat Baghdad.

Tentang agama al-Khawārizmī', Toomer menulis: “Sebutan lain untuk beliau diberikan oleh al-Ṭabarī, "al-Majūsī," ini mengindikasikan ia adalah pengikut Zoroaster. Ini mungkin terjadi pada orang yang berasal dari Iran. Tetapi, kemudian buku Al-Jabar beliau menunujukkan beliau adalah seorang Muslim Ortodok, jadi sebutan Al-Tabari ditujukan pada saat ia muda, ia beragama Majusi.”

Dalam Kitāb al-Fihrist Ibnu al-Nadim, kita temukan sejarah singkat beliau, bersama dengan karya-karya tulis beliau. Al-Khawarizmi menekuni hampir seluruh pekerjaannya antara 813-833. setelah Islam masuk ke Persia, Baghdad menjadi pusat ilmu dan perdagangan, dan banyak pedagang dan ilmuwan dari Cina dan India berkelana ke kota ini, yang juga dilakukan beliau. Dia bekerja di Baghdad pada Sekolah Kehormatan yang didirikan oleh Khalifah Bani Abbasiyah Al-Ma'mun, tempat ia belajar ilmu alam dan matematika, termasuk mempelajari terjemahan manuskrip Sanskerta dan Yunani.

Karya

Karya terbesar beliau dalam matematika, astronomi, astrologi, geografi, kartografi, sebagai fondasi dan kemudian lebih inovatif dalam aljabar, trigonometri, dan pada bidang lain yang beliau tekuni. Pendekatan logika dan sistematis beliau dalam penyelesaian linear dan notasi kuadrat memberikan keakuratan dalam disiplin aljabar, nama yang diambil dari nama salah satu buku beliau pada tahun 830 M, al-Kitab al-mukhtasar fi hisab al-jabr wa'l-muqabala (Arab الكتاب المختصر في حساب الجبر والمقابلة) atau: "Buku Rangkuman untuk Kalkulasi dengan Melengkapakan dan Menyeimbangkan”, buku pertama beliau yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12.

Pada buku beliau, Kalkulasi dengan angka Hindu, yang ditulis tahun 825, memprinsipkan kemampuan difusi angka India ke dalam perangkaan timur tengah dan kemudian Eropa. Buku beliau diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Algoritmi de numero Indorum, menunjukkan kata algoritmi menjadi bahasa Latin.

Beberapa kontribusi beliau berdasar pada Astronomi Persia dan Babilonia, angka India, dan sumber-sumber Yunani. Sistemasi dan koreksi beliau terhadap data Ptolemeus pada geografi adalah sebuah penghargaan untuk Afrika dan Timur –Tengah.

Buku besar beliau yang lain, Kitab surat al-ard ("Pemandangan Bumi";diterjemahkan oleh Geography), yang memperlihatkan koordinat dan lokasi dasar yang diketahui dunia, dengan berani mengevaluasi nilai panjang dari Laut Mediterania dan lokasi kota-kota di Asia dan Afrika yang sebelumnya diberikan oleh Ptolemeus.

Ia kemudian mengepalai konstruksi peta dunia untuk Khalifah Al-Ma’mun dan berpartisipasi dalam proyek menentukan tata letak di Bumi, bersama dengan 70 ahli geografi lain untuk membuat peta yang kemudian disebut “ketahuilah dunia”. Ketika hasil kerjanya disalin dan ditransfer ke Eropa dan Bahasa Latin, menimbulkan dampak yang hebat pada kemajuan matematika dasar di Eropa. Ia juga menulis tentang astrolab dan sundial.

Kitab I - Aljabar

Al-Kitāb al-mukhtaṣar fī ḥisāb al-jabr wa-l-muqābala (Arab: الكتاب المختصر في حساب الجبر والمقابلة atau Kitab yang Merangkum Perhitungan Pelengkapan dan Penyeimbangan) adalah buku matematika yang ditulis pada tahun 830. Kitab ini merangkum definisi aljabar. Terjemahan ke dalam bahasa Latin dikenal sebagai Liber algebrae et almucabala oleh Robert dari Chester(Segovia, 1145) dan juga oleh Gerardus dari Cremona.

Dalam kitab tersebut diberikan penyelesaian persamaan linear dan kuadrat dengan menyederhanakan persamaan menjadi salah satu dari enam bentuk standar (di sini b dan c adalah bilangan bulat positif)
  • kuadrat sama dengan akar (ax2 = bx)
  • kuadrat sama dengan bilangan konstanta (ax2 = c)
  • akar sama dengan konstanta (bx = c)
  • kuadrat dan akar sama dengan konstanta (ax2 + bx = c)
  • kuadrat dan konstanta sama dengan akar (ax2 + c = bx)
  • konstanta dan akar sama dengan kuadrat (bx + c = ax2)
Dengan membagi koefisien dari kuadrat dan menggunakan dua operasi: al-jabr ( الجبر ) atau pemulihan atau pelengkapan) dan al-muqābala (penyetimbangan). Al-jabr adalah proses memindahkan unit negatif, akar dan kuadrat dari notasi dengan menggunakan nilai yang sama di kedua sisi.

Contohnya, x2 = 40x - 4x2 disederhanakan menjadi 5x2 = 40x. Al-muqābala adalah proses memberikan kuantitas dari tipe yang sama ke sisi notasi. Contohnya, x2 + 14 = x + 5 disederhanakan ke x2 +9 = x.

Beberapa pengarang telah menerbitkan tulisan dengan nama Kitāb al-ǧabr wa-l-muqābala, termasuk Abū Ḥanīfa al-Dīnawarī, Abū Kāmil (Rasāla fi al-ǧabr wa-al-muqābala), Abū Muḥammad al-‘Adlī, Abū Yūsuf al-Miṣṣīṣī, Ibnu Turk, Sind bin ‘Alī, Sahl bin Bišr, dan Šarafaddīn al-Ṭūsī.

Buku 2 - Dixit algorizmi

Buku kedua besar beliau adalah tentang aritmatika, yang bertahan dalam Bahasa Latin, tapi hilang dari Bahasa Arab yang aslinya. Translasi dilakukan pada abad ke-12 oleh Adelard of Bath, yang juga menerjemahkan tabel astronomi pada 1126.

Pada manuskrip Latin,biasanya tak bernama, tetapi umumnya dimulai dengan kata: Dixit algorizmi ("Seperti kata al-Khawārizmī"), atau Algoritmi de numero Indorum ("al-Kahwārizmī pada angka kesenian Hindu"), sebuah nama baru di berikan pada hasil kerja beliau oleh Baldassarre Boncompagni pada 1857. Kitab aslinya mungkin bernama Kitāb al-Jam’a wa-l-tafrīq bi-ḥisāb al-Hind ("Buku Penjumlahan dan Pengurangan berdasarkan Kalkulasi Hindu").

Buku 3 - Rekonstruksi Planetarium

Buku ketiga beliau yang terkenal adalah Kitāb ṣūrat al-Arḍ (Bhs.Arab: كتاب صورة الأرض "Buku Pemandangan Dunia" atau "Kenampakan Bumi" diterjemahkan oleh Geography), yang selesai pada 833 adalah revisi dan penyempurnaan Geografi Ptolemeus, terdiri dari daftar 2402 koordinat dari kota-kota dan tempat geografis lainnya mengikuti perkembangan umum.

Hanya ada satu kopi dari Kitāb ṣūrat al-Arḍ, yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Strasbourg. Terjemahan Latinnya tersimpan di Biblioteca Nacional de España di Madrid. Judul lengkap buku beliau adalah Buku Pendekatan Tentang Dunia, dengan Kota-Kota, Gunung, Laut, Semua Pulau dan Sungai, ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi berdasarkan pendalaman geografis yamg ditulis oleh Ptolemeus dan Claudius.

Buku ini dimulai dengan daftar bujur dan lintang, termasuk “Zona Cuaca”, yang menulis pengaruh lintang dan bujur terhadap cuaca. Oleh Paul Gallez, dikatakan bahwa ini sangat bermanfaat untuk menentukan posisi kita dalam kondisi yang buruk untuk membuat pendekatan praktis. Baik dalam salinan Arab maupun Latin, tak ada yang tertinggal dari buku ini. Oleh karena itu, Hubert Daunicht merekonstruksi kembali peta tersebut dari daftar koordinat. Ia berusaha mencari pendekatan yang mirip dengan peta tersebut.

Buku 4 - Astronomi

Buku Zīj al-sindhind (Arab: زيج "tabel astronomi”) adalah karya yang terdiri dari 37 simbol pada kalkulasi kalenderastronomi dan 116 tabel dengan kalenderial, astronomial dan data astrologial sebaik data yang diakui sekarang.

Versi aslinya dalam Bahasa Arab (ditulis 820) hilang, tapi versi lain oleh astronomer Spanyol Maslama al-Majrīṭī (1000) tetap bertahan dalam bahasa Latin, yang diterjemahkan oleh Adelard of Bath (26 Januari 1126). Empat manuskrip lainnya dalam bahasa Latin tetap ada di Bibliothèque publique (Chartres), the Bibliothèque Mazarine (Paris), the Bibliotheca Nacional (Madrid) dan the Bodleian Library (Oxford).

Buku 5 - Kalender Yahudi

Al-Khawārizmī juga menulis tentang Penanggalan Yahudi (Risāla fi istikhrāj taʾrīkh al-yahūd "Petunjuk Penanggalan Yahudi"). Yang menerangkan 19-tahun siklus interkalasi, hukum yang mengatur pada hari apa dari suatu minggu bulanTishrī dimulai; memperhitungkan interval antara Era Yahudi(penciptaan Adam) dan era Seleucid ; dan memberikan hukum tentang bujur matahari dan bulan menggunakan Kalender Yahudi. Sama dengan yang ditemukan oleh al-Bīrūnī dan Maimonides.

Muḥammad bin Mūsā al-Khwārizmī
Perangko Muḥammad bin Mūsā al-KhwārizmīInformasi Pribadi :
  • Lahir: 780 di Khwārizm (sekarang Khiva, Uzbekistan) 
  • Meninggal : 850 di Baghdad
  • Suku: Persia
  • Dikenal karena: Risalahnya tentang aljabar dan angka India
  • Mempengaruh : Abu Kamil                                                                                                                                                              

Monday, April 4, 2016

Ahmad bin Muhammad al-Nahavandi

Gamabar al-Nahavandi
                               Foto diambil dari naskah abad pertengahan oleh Qotbeddin Shirazi. 
                                         Gambar menggambarkan model planet epicyclic.

Ahmad bin Muhammad al-Nahavandi adalah seorang astronom Persia (sekarang Iran) dari dari abad ke-8 dan ke-9. Bila dilihat dari namanya maka dapat dipastikan bahwa beliau berasal dari Nahavand, yakni sebuah kota di Iran.

Nahavandi tinggal dan bekerja di Akademi Gundishapu, di Khuzestan, Iran. Yahya bin Khalid bin Barmak (meninggal pada 803AD) menyatakan bahw Ahmad Nahavandi telah membuat pengamatan astronomi sekitar tahun 800AD. Ahmad Nahavandi dan Masya bin Athari termasuk  astronom yang paling awal di era Islam yang berkembang pada masa pemerintahan al-Mansur, Khalifah kedua Abbasiyah.

Ibnu qurra Ibnu Marwan al-Sabi al-Harrani

Lukisan Tsabit bin QurrahThabit (Tsabit) Ibnu qurra Ibnu Marwan al-Sabi al-Harrani  atau yang lebih dikenal dengan nama Thabit Ibn Qurra adalah seorang ilmuwan yang berasal dari Harran (Turki sekarang) yang menguasai ilmu matematika, astronomi dan mekanika. Selain itu, karena keahliannya dalam bahasa ia juga telah menerjemahkan sejumlah besar karya-karya dari Yunani ke Arab. Tsabit menerjemahkan buku Euclid yang berjudul Elements dan buku Ptolemy yang berjudul Geograpia.

Di antara tulisan Thabit sejumlah besar masih ada, sementara beberapa dintaranya sudah hilang. Sebagian besar buku-buku yang ada matematika, diikuti oleh astronomi dan kedokteran. Buku-buku telah ditulis dalam bahasa Arab tetapi beberapa di Syria. Pada Abad Pertengahan, beberapa buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gherard dari Cremona. Dalam abad terakhir ini, sejumlah buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa dan diterbitkan.

Dia melanjutkan pekerjaan dari Banu Musa bersaudara dan kemudian anaknyadan cucunya melanjutkan tradisi ini, bersama dengan anggota lain dari grup. Buku aslinya serta terjemahannya diselesaikan pada abad ke-9 memberikan pengaruh yang positif pada pengembangan penelitian ilmiah berikutnya.

Biografi

Thabit Ibn Qurra lahir di Harran (Turki sekarang) pada tahun 836 M. Di barat dikenal dengan nama Thebit .Namanya menunjukkan bahwa dia  adalah anggota dari sekte Sabian/Sabi'ah.

Matematikawan Muslim besar Muhammad Ibn Musa Ibn Shakir, terkesan dengan pengetahuannya tentang bahasa, dan menyadari potensi untuk berkarir ilmiah, maka tidak salah bila Shakir memilih Tsabit untuk bergabung dengan kelompok ilmiah di Baghdad yang sedang dilindungi oleh khalifah Abbasiyah.

Tsabit menempuh pendidikan di Baitul Hikmah di Baghdad atas ajakan Muhammad ibn Musa ibn Shakir. Di sana, ia belajar di bawah Banu Musa bersaudara yang terkenal. Dengan pengaturan ini Thabit memberikan kontribusi untuk beberapa cabang ilmu pengetahuan, khususnya matematika, astronomi dan mekanika, selain menerjemahkan sejumlah besar karya-karya dari Yunani ke Arab. Tsabit menerjemahkan buku Euclid yang berjudul Elements dan buku Ptolemy yang berjudul Geograpia. Kemudian, ia dilindungi oleh Khalifah Abbasiyah al-Mu'tadid. Setelah karir yang panjang, Thabit meninggal di Baghdad pada tahun 901.

Kontribusi

Kontribusi besar Thabit terletak dalam matematika dan astronomi. Tsabit merupakan salah satu penerus karya al-Khawarizmi. Beberapa karyanya diterjemahkan dalam bahasa Arab dan Latin, khususnya karya tentang Kerucut Apollonius.

Tsabit meninggalkan karya berharga yaitu penentuan luas bumi yang masih dipakai hingga saat ini. Ia juga penemu jam matahari (Mazawil asy-Syamsiyyah).

Bidang Matematika

Dia berperan penting dalam memperluas konsep tradisional geometri menjadi aljabar geometri dan beberapa teori yang di usulkannya menyebabkan perkembangan geometri non-Euclidean, spherical trigonometri, kalkulus integral dan bilangan real. Dia mengkritik sejumlah elemen teorema Euclid dan perbaikan penting yang diusulkan. Ia menerapkan beberapa aspek aritmatika terminologi kebesaran geometri, dan belajar dari bagian kerucut, khususnya parabola dan elips. Sejumlah perhitungannya bertujuan untuk menentukan permukaan dan volume dari berbagai jenis tubuh dan merupakan, pada kenyataannya, proses kalkulus integral, sebagaimana yang dikembangkan kemudian.

Karya orisinal Archimedes yang diterjemahkannya berupa manuskrip berbahasa Arab, yang ditemukan di Kairo. Setelah diterjemahkan, karya tersebut kemudian diterbitkan di Eropa. Pada tahun 1929, karya tersebut diterjemahkan lagi dalam bahasa Jerman. Adapun karya Euclides yang diterjemahkannya berjudul On the Promises of Euclid, on the Propositions of Euclid dan sebuah buku tentang sejumlah dalil dan pertanyaan yang muncul jika dua buah garis lurus dipotong oleh garis ketiga. Hal tersebut merupakan salah satu bukti dari pernyataan Euclides yang terkenal di dunia ilmu pengetahuan. Selain itu, Tsabit juga pernah menerjemahkan sebuah buku geometri yang berjudul Introduction to the Book of Euclid.

Buku Elements karya Euclides merupakan sebuah titik awal dalam kajian ilmu geometri. Seperti yang dilakukan para ilmuwan muslim lain, Tsabit bin Qurrah pun tidak mau ketinggalan mengembangkan dalil baru tersebut. Ia mulai mempelajari dan mendalami masalah bilangan irasional. Dengan metode geometri, ia ternyata mampu memecahkan soal khusus persamaan pangkat tiga. Sejumlah persamaan geometri yang dikembangkan Tsabit bin Qurrah mendapat perhatian dari sejumlah ilmuwan muslim, terutama para ahli matematika. Salah satu ilmuwan tersebut adalah Abu Ja’far al-Khazin, seorang ahli yang sanggup menyelesaikan beberapa soal perhitungan dengan menggunakan bagian dari kerucut. Para ahli matematika menganggap penyelesaian yang dibuaat Tsabit bin Qurrah sangat kreatif. Tentu saja, hal tersebut disebabkan Tsabit bin Qurrah sangat menguasai semua buku karya ilmuwan asing yang pernah diterjemahkannya.

Tsabit bin Qurrah juga pernah menulis sejumlah persamaan pangkat dua (kuadrat), persamaan pangkat tiga (kubik), dan beberapa pendalaman rumus untuk mengantisipasi perkembangan kalkulus integral. Selain itu, ia melakukan sejumlah kajian mengenai parabola, sebelum kemudian mengembangkannya. Dalam bukunya yang berjudul Quadrature of Parabola, ia menggunakan bentuk hitungan integral untuk mengetahui sebuah bidang dari parabola.

Bidang Astronomi

Dalam astronomi dia adalah salah satu dari para reformis awal pandangan Ptolemic. Ia menganalisis beberapa. masalah yang berkaitan dengan gerakan matahari dan bulan dan menulis risalah pada jam matahari.

Ia pernah bekerja di Pusat Penelitian Astronomi yang didirikan oleh Khalifah al-Ma’mun di Baghdad. Selama bekerja di sana, Tsabit meneliti gerakan sejumlah bintang yang disebut Hizzatul I’tidalain, yang ternyata mempengaruhi terjadinya gelombang bumi setiap 26 tahun sekali. Sejak 5000 tahun yang lalu, para ahli perbintangan Mesir telah menemukan sebuah bintang yang bergerak mendekati Kutub Utara, yang disebut Alfa al-Tanin. Pada tahun 2100 nanti, bintang tersebut akan menjauhi Kutub Utara. Pada tahun 14000, akan muncul kembali sebuah bintang utara yang bernama an-Nasr. Bintang tersebut adalah bintang utara yang paling terang.

Tsabit juga memimpin sebuah penelitian pada masa pemerintahan Khalifah al-Rasyid. Tsabit mengukur luas bumi dengan menggunakan garis bujur dan garis lintang secara teliti. Penemuan Tsabit tersebut memberikan inspirasi pada para pelaut, seperti Colombus, untuk melakukan pelayaran keliling dunia yang dimulai dari Laut Atlantik. Berkat penemuan tersebut, para pelaut bisa memastikan kalau mereka tidak akan tersesat dan kembali ke tempat semula, yaitu Laut Atlantik. Penemuan penting Tsabit yang lain adalah jam matahari. Jam ini menggunakan sinar matahari untuk mengetahui peredaran waktu dan menentukan waktu shalat. Tsabit juga membuat kalender tahunan berdasarkan sistem matahari.

Buku karya Thabit Ibn Qurra tentang astronomi:

  • Mukhtasar fi Ilmin Nujum (Ringkasan Ilmu Astronomi)
  • Kitab fi Thabai`il Kawakib wa Ta`tsiriha (Buku tentang karakter bintang-bintang dan pengaruhnya)
  • Kitab fi Ibhthail Harakah fil Falakil Buruj (buku tentang gerakan bintang dan galaksi)
  • Kitab fi Tarkibil Aflak (Buku tentang susunan bintang)
  • Kitab fi Harakatil Falak (Buku tentang gerakan bintang)

Bidang Mekanika & Fisika

Di bidang mekanika dan fisika dia dapat diakui sebagai pendiri statika. Dia memeriksa kondisi kesetimbangan tubuh, balok dan tuas. Selain menerjemahkan sejumlah besar buku dirinya sendiri, ia mendirikan sebuah sekolah terjemahan dan mengawasi terjemahan dari sejumlah besar buku-bukudari Yunani ke Arab.

Referensi:

Banu Musa seorang astronom Dari bagdad

Gambar Banu Musa.kitab
Muhammad bin Musa bin Shakir Banu Musa, (800 - 873), adalah seorang astronom dan matematikawan dari Baghdad. Banu Musa bersaudara merupakan putra-putra dari Musa ibn Shakir yang bekerja sebagai ahli astrologi Khalifah al-Ma'mun. Pada saat Musa ibn Shakir meninggal, dia meninggalkan anak-anaknya yang masih muda dalam lingkungan kekhalifahan.

Musa memercayakan anak-anaknya untuk dibimbing oleh Ishaq bin Ibrahim al-Mus'abi, mantan gubernur Baghdad. Dalam bidang pendidikan, ia menitipkan anak-anaknya kepada Yahya bin Abu Mansur. Seorang cendekiawan yang bergiat di Bayt al-Hikmah.

Kitab al-Hiyal atau Kitab Perangkat Mekanik merupakan hal bernilai yang ditinggalkan Banu Musa bersaudara. Melalui kitab ini, mereka memberikan warisan berguna bagi perkembangan teknik dan arsitektur dalam dunia Islam.


Banu Musa Bersaudara

Banu Musa bersaudara hidup pada abad ke-9. Mereka adalah ilmuwan yang sangat aktif berkegiatan di Bayt al-Hikmah, Baghdad, Irak. Ini merupakan sebuah tempat yang terkenal dengan perpustakaan dan penerjemahan beragam ilmu pengetahuan.

Banu Musa terdiri atas tiga bersaudara. Yang pertama adalah Abu Ja'far Muhammad ibn Musa ibn Shakir yang hidup antara tahun 803-873. Dia memiliki keahlian khusus di bidang astronomi, teknik, geometri, dan fisika. Kemudian, ada juga Ahmad bin Musa ibn Shakir yang hidup antara tahun 803-873.

Ahmad memiliki keahlian khusus di bidang teknik dan mekanik. Selain itu, juga ada Al-Hasan bin Musa ibn Shakir yang hidup antara tahun 810-873. Dia pun memiliki keahlian yang sangat dikuasainya, yaitu bidang rekayasa dan geometri.

Merancang pembuatan air mancur

Dalam kitabnya, Banu Musa bersaudara menciptakan rancangan pembuatan air mancur dalam beragam teknik dan trik. Mereka menerapkan beragam prinsip geometri dan fisika untuk membuat air mancur. Kitab tersebut juga memuat tujuh model atau rancangan air mancur.

Rancangan pertama mengenalkan bentuk dasar yang ditemukan dalam semua air mancur. Rancangan lainnya menunjukkan pembuatan air mancur yang lebih rumit. Tentu, itu memerlukan ketelitian dan kemampuan teknik yang lebih tinggi.

Dalam kitabnya itu, Banu Musa bersaudara misalnya memberi penjelasan mengenai pembuatan air mancur yang bentuk pancaran airnya bisa berubah dari satu bentuk ke bentuk lain secara periodik.

Banu Musa bersaudara juga menguraikan, setiap air mancur memiliki tunas yang menjadi tempat pipa-pipa membentuk air mancur yang memancar dan memiliki bentuk yang unik. Biasanya, dalam tunas itu terdapat dua kompartemen.

Pada bagian bawah, tekanan air terakumulasi sebelum air tersebut dilepaskan melalui pipa yang ada di kompartemen atas. Bentuk air mancur yang memancar keluar tergantung bagaimana kompartemen atas diatur.

Paling tidak, terdapat tiga bentuk dasar air yang memancar keluar dari sebuah air mancur, yaitu bentuk lili, perisai, dan tombak. Air mancur lainnya merupakan bagian dari rancangan hebat yang bisa memasukkan dua bentuk pancaran air mancur dalam sebuah tunas.

Pada air mancur jenis ini, dua bentuk pancaran air mancur bisa terbentuk secara bersamaan. Ada pula pancaran air mancur yang berubah secara periodik, misalnya berubah dari sebuah tombak ke sebuah perisai, kemudian kembali lagi ke pancaran air berbentuk tombak.

Untuk membuat pancaran air yang keluar bergantian dan berbentuk seperti tombak dan perisai, diperlukan pengaturan yang sangat cermat dan teliti. Pengaturan harus seimbang dengan memerhatikan prinsip-prinsip fisika.

Keseimbangan bertindak sebagai sebuah saklar yang menentukan bagaimana air dari kanal utama didistribusikan ke setiap bak. Salah satu bak difungsikan untuk memancarkan air dalam bentuk tombak, sedangkan bak yang satunya untuk memancarkan air dalam bentuk perisai.

Bak ini ditempatkan pada air mancur dan tersembunyi dari pandangan publik. Bak tersebut berfungsi sebagai akumulator tekanan. Dengan demikian, bak tersebut menyediakan pasokan air yang cukup dan tekanan untuk menciptakan efek air mancur yang diinginkan.

Dalam sebuah rancangan, Banu Musa bersaudara mendesain sebuah bak yang menentukan bentuk air yang keluar. Selanjutnya, mereka merancang air mancur dengan roda gerigi dan katup canggih yang memungkinkan bentuk pancaran air berubah dari satu bentuk ke bentuk lain.

Penemuan cara pembuatan air mancur oleh Banu Musa bersaudara memberikan efek besar bagi kemajuan arsitektur Islam. Sebab, air mancur itu sangat berguna untuk mempercantik taman dengan meletakannya di antara pepohonan atau dalam sebuah kolam yang indah.

Dalam berbagai catatan sejarah Islam, terungkap bahwa umat Islam menjadi umat pertama yang menggunakan media air dalam rancangan sebuah taman. Pun, memanfaatkan media air untuk memperindah ruangan, baik di rumah, masjid, istana, maupun taman umum.

Sayangnya, hanya ada sedikit naskah sejarah yang menyebutkan dan mengisahkan keberadaan air mancur pada masa kekhalifahan al-Ma'mun. Bahkan, Banu Musa bersaudara tak banyak pula menuliskan bagaimana setiap perangkat yang mereka temukan digunakan.


Karya-karya Banu Musa Bersaudara

Buah pemikiran Banu Musa bersaudara tak sebatas pada rancangan air mancur. Mereka menorehkan sejumlah rancangan dalam Kitab al-Hiyal. Mereka juga menemukan sejumlah mesin otomatis dan alat mekanik lainnya.

Beberapa penemuan lainnya yang berhasil diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya adalah:

  • Katup, mesin yang bisa diprogram, seruling otomatis, perangkat trik mekanik, lampu badai, lampu otomatis, tekanan diferensial, dan masker gas. 
  • Banu Musa bersaudara juga menemukan sebuah alat yang dikenal sebagai alat musik mekanik paling awal. Alat musik ini disebut sebagai hydropowered organ, kemudian sering digunakan dan diproduksi hingga pertengahan abad ke-19. 
  • Alat musik penemuan mereka lainnya disebut seruling otomatis yang merupakan salah satu mesin yang bisa diprogram untuk pertama kalinya. Tak hanya itu, Banu Musa bersaudara juga meninggalkan karya-karya mereka dalam bidang matematika.
  • Kitab Pengukuran Pesawat dan Figur Berbentuk Bola merupakan salah satu risalah matematika paling terkenal dari karya Banu Musa bersaudara. Dalam kitab ini, mereka membahas masalah yang dipikirkan Archimedes, ahli matematika, fisika, dan astronomi dari Yunani. 
  • Archimedes membahas pengukuran lingkaran pada bola dan silinder. Di sisi lain, Abu Ja'far Muhammad ibn Musa ibn Shakir, yang berusia paling tua di antara tiga bersaudara itu, juga dikenal sebagai perintis astrofisika dan mekanika langit. 
  • Abu Ja'far Muhammad, dalam bukunya, memberikan penjelasan tentang gerakan bola. Dalam buku tersebut, dia juga menuliskan penemuannya tentang benda-benda langit yang menjadi subjek dalam hukum fisika bumi.
  • Karya Abu Ja'far Muhammad lainnya adalah pembahasan tentang gerakan bintang dan hukum tarik-menarik. Ia mengungkapkan adanya gaya tarik-menarik antara benda-benda langit. Hal ini membuktikan bahwa hukum gravitasi Newton berlaku secara universal.
  • Sementara itu, Ahmad ibn Musa ibn Shakir, adik Abu Ja'far Muhammad,  yang ahli mekanik, menuliskan karya tentang perangkat mekanik. Sedangkan, Al-Hasan ibn Mu-sa-ibn Sha-kir yang berusia paling muda dan ahli geometri menuliskan karya tentang elips.
(sumber: Republika)