Showing posts with label Tokoh Ilmuan Matematika. Show all posts
Showing posts with label Tokoh Ilmuan Matematika. Show all posts

Tuesday, December 12, 2017

Observatorium Ulugh Begh

Gambar Observatorium Ulugh BeghUlugh Beg (Bahasa Persia: میرزا محمد طارق بن شاہرخ الغ‌بیگ‎ – Mīrzā Muhammad Tāraghay bin
Shāhrukh Uluġ Beg) adalah Sultan Khorasan, ahli astronomi dan metematika. Ulugh Beg dilahirkan di Soltaniyah, Iran pada tahun 1394 dan meninggal pada tahun 1449 di Samarkand, Uzbekistan. Untuk menghormati pencapaian sang sultan dalam astronomi, pada 1830 sebuah kawah di Bulan dinamai ìUlugh Beighî oleh astronom Jerman Johann Heinrich von Madler pada peta Bulan buatannya.

Awal Kehidupan

Ulugh Begh, yang berarti ”Penguasa Agung”, pada masanya selain dikenal sebagai raja atau sultan penebar kasih dan perdamaian di Asia Tengah, ia pun menguasai ilmu astronomi dan matematika. Salah satu hasil karyanya yang brilian adalah ilmu trigonometri dan geometri bentuk bola.

Lahir di Sultaniyeh, Persia (kini Iran) pada tahun 1394, dengan nama Mirza Mohammad Taregh bin Shahrukh. Dia adalah cucu dari Amir Timur atau yang lebih dikenal sebagai Timur Leng, sang penakluk dan pendiri kekaisaran Timurid di Asia Tengah. Mirza Ulugh Begh adalah anak tertua dari Shah Rukh, mereka berasal dari suku Mongol Barlas dari Transoxiana (kini Uzbekistan). Sedangkan ibunya seorang bangsawan Goharshad dari Persia.

Semasa anak-anak, Mirza mengembara ke tempat-tempat penting di Timur Tengah dan India bersama kakeknya, Amir Timur, ketika memperluas kekuasaannya di wilayah tersebut. Sepeninggal kakeknya, Mirza kecil menetap di Samarkand yang pada waktu itu menjadi ibukota kerajaan Timurid.

Pada usia 16 tahun, Mirza Mohammad sudah menjadi gubernur di Samarkand (1409). Bahkan pada tahun 1411 ia menjadi penguasa penuh seluruh Mavarannahr (kini Uzbekistan, Tajikistan, dan sebagian Kazakhstan).

Sang penguasa berusia remaja ini berhasil mengubah kota Samarkand, menjadi sebuah pusat intelektual bagi kerajaan. Pada 1417-1420 ia pun membangun madrasah (universitas) yang hingga kini masih berdiri megah di Registan Square, Samarkand, Uzbekistan. Kala itu madrasah ini ramai dikunjungi para astronom dan matematikawan Islam untuk belajar. Salah seorang hasil didikan Ulugh Begh adalah Ghiyath al-Kashi, seorang ahli matematika terkemuka.

Selain matematika, astronomi adalah ilmu yang paling menarik minat sang sultan, dan kecintaannya dibuktikan pada tahun 1420, dengan mendirikan sebuah observatorium kolosal, yang ia namai Gurkhani Zij, sebuah observatorium mirip Uraniborg buatan Tycho Brahe. Gurkhani berbentuk busur seperempat lingkaran (kuadran) berukuran raksasa yang melengkung dari ruang bawah tanah hingga menonjol di permukaan tanah.

Sumbangan Ulugh Beg

Sesuai dengan minatnya yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan, dia bangun kota tersebut menjadi sebuah pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan muslim. Sampai sekarang bangunan-bangunan dan monumen-monumen peninggalan Ulugh Beg dapat kita lihat di kota Samarkand. Di sanalah ia menulis lirik-lirik syair, buku-buku sejarah dan mengkaji Qur’an. Meskipun demikian, astronomi dan matematika merupakan bidang utama yang sangat menarik perhatiannya. Ia turun tangan secara langsung melakukan kajian dan pengamatan tentang bintang-bintang. Pada tahun 1420 ia membangun sebuah observatorium di Samarkand untuk mengobservasi planet-planet dan bintang-bintang.

Di observatorium inilah Ulugh Beg dan timnya mewujudkan cinta mereka pada Tuhan dengan sungguh-sungguh bekerja dan beribadah. Dari hasil observasi itu mereka menyiapkan tabel-tabel astronomi matahari, bulan dan planet-planet lain yang telah diamati dengan tingkat kecermatan tinggi, yang akurasinya tidak terlalu jauh berbeda dengan hasil pengamatan astronom modern yang menggunakan berbagai teleskop yang canggih. Dari hasil pengamatan dan perhitungannya ia dan timnya juga mengoreksi perhitungan yang pernah diperbuat astronom-astronom Romawi seperti Ptolemeus. Hasil-hasil observasi mereka terhimpun antara lain dalam kitab “Zij-i- Djadid-iSultani”

Selain itu masih banyak kitab-kitab lain yang mereka tulis dalam bahasa Arab. Beberapa hasil karya mereka diterjemahkan oleh astronom-astronom Inggris dan Perancis beberapa ratus tahun kemudian. Hal ini menunjukkan bahwa hasil observasi dan perhitungan mereka sangat canggih untuk ukuran zaman itu sehingga datanya masih sangat berguna ratusan tahun kemudian.

Bangunan observatorium Ulugh Beg di Samarkand berwujud sebagai peralatan raksasa yang dirancang sedemikian rupa untuk mengamati bintang-bintang di satu lokasi yang tetap di cakrawala. Interiornya berupa sebuah terowongan batu yang cukup lebar dan panjang di mana pangkalnya berada di bawah tanah dan berujung pada alam terbuka beratapkan langit. Di dalamnya dilengkapi dengan 2 (dua) jeruji batu yang ditempatkan pada posisi tepat sehingga memberi hasil yang maksimal dalam menghitung ketinggian jarak bintang-bintang yang diamati secara cermat.

Observatorium Ulugh Beg di Samarkand yang dibangun atas dasar ilmu ilham yang dianugerahkan Tuhan terbukti sangat canggih untuk ukuran zaman itu, sehingga peralatan seperti ini masih ditiru dan digunakan oleh astronom-astronom Eropa lebih 100 tahun kemudian, diantaranya observatorium Uraniborg (1576) dan observatorium Stierneborg (1584). Tidak hanya dari segi penampilan fisik dan arsitekturnya yang mencontohi observatorium Ulugh Beg melainkan juga dari sisi kualitas dan kuantitas peralatan dan bahkan sampai manajemen operasinya.

Penemun observatorium peninggalan abad ke-15

Tahun 1908, di bawah reruntuhan kota kuno Afrasiyab, Samarkand, Vladimir Viyatkin, seorang arkeolog asal Rusia, terkesima menatap sebuah bentuk bangunan aneh menjulang di hadapannya. Dari hasil penggaliannya itu, akhirnya ia dapat mengenali bangunan itu sebagai sextant atau kuadran berukuran raksasa. Arkeolog amatir itu akhirnya sadar bahwa ia sedang berada di sebuah observatorium peninggalan abad ke-15.

Puing-puing sisa observatorium Islam paling awal ini, adalah salah satu bukti kecintaan seorang raja pada ilmu pengetahuan khususnya ilmu astronomi. Observatorium luar biasa ini dibangun pada tahun 1420 oleh seorang penguasa Timurid bernama Ulugh Begh.

Kesaksian

Sejatinya observatorium pertama di dunia dibangun oleh seorang astronom Yunani bernama Hipparchus (150 SM). Namun, di mata ahli astronomi muslim abad pertengahan, konsep observatorium yang digagas oleh Hipparcus itu jauh dari memadai. Sebagai ajang pembuktian, para sarjana muslim pun kemudian bekerja sama dalam membangun observatorium yang lebih modern pada zamannya. Sejumlah astronom muslim yang dipimpin Nasir al-Din al-Thusi pun akirnya berhasil membangun observatorium astronomi di Maragha pada 1259 M. Observatorium itu dilengkapi perpustakaan dengan koleksi buku yang mencapai 400 ribu judul.

Seorang ahli astronomi Barat, Kevin Krisciunas, dalam tulisannya berjudul 'The Legacy of Ulugh Beg' mengungkapkan bahwa observatorium termegah yang pernah dibangun oleh para sarjana muslim adalah observatorium Ulugh Beg. Observatorium itu dibangun oleh seorang penguasa keturunan Mongol yang bertahta di Samarkand yang bernama lengkap Muhammad Taragai Ulugh Beg (1393-1449). Dia adalah seorang pejabat yang menaruh perhatian tinggi terhadap ilmu astronomi dan juga ilmu pengetahuan.

Sumber:

- http://id.wikipedia.org/wiki/Ulugh_Beg
- http://en.wikipedia.org/wiki/Ulugh_Beg
- http://www.zulfanafdhilla.com/2013/04/biografi-ululgh-begh-ahli-ilmu-falak.html
- http://www.bukukerja.com/2013/07/ilmuwan-ulugh-beg-pembangun.html

K.H. Fahmi Basya-Penerapan Matematika Islam

Gambar Fahmi BasyaFahmi Basya adalah seorang pengajar Matematika Islam di Universitas Islam Negeri Jakarta. Ia
dikenal sebagai penemu bidang ilmu Matematika Islam yang ia teliti sejak tahun 1972. Fahmi Basya merupakan alumnus FMIPA Universitas Indonesia.

Matematika Islam

Matematika Islam merupakan suatu metode membedah keajaiban Al-Qur'an dari sisi keilmuan matematika yang ditemukan oleh KH Fahmi Basya.

K.H. Fahmi Basya melakukan penelitian mengenai Al-Qu'ran sejak tahun 1972 dan baru ia rumuskan pada tahun 1982.

Pada awalnya, Fahmi mengemukakan ide Matematika Islam melalui berbagai selebaran, seminar, dan stadium general. Pada tahun 2002, idenya dipakai sebagai salah satu mata kuliah di UIN Syarif Hidayatullah. Selanjutnya, ia diminta sebagai penceramah untuk mengenalkan konsep Matematika Islam di sebuah stasiun televisi swasta.

Menurut K.H. Fahmi Basya, Matematika Islam ialah Matematika yang menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi sebagai postulat. (postulat /pos·tu·lat/ n = asumsi yg menjadi pangkal dalil yg dianggap benar tanpa perlu membuktikannya; anggapan dasar; aksioma)

Penerapan Matematika Islam

Dalam Matematika Islam, seseorang tidak lagi perlu membuktikan suatu data yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, sekalipun nanti dalam perjalanannya, Matematika Islam seolah membuktikan kebenaran sunnah-sunnah Nabi.

Data bilangan dari AlQuran dan Nabi diolah dan dibuat model matematikanya, seperti: Pilar Al-Quran, Permata Shalat, Roda Gigi Sholat, dan lain-lain.

Angka 19

Dalam sebuah seminar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Fahmi memberikan gambaran bahwa sesungguhnya di dalam Al-Quran terkandung rahasia-rahasia yang harus dipikirkan oleh umat manusia, salah satunya adalah rahasia angka dalam Al-Quran. Ia menjelaskan bahwa angka yang paling sering banyak muncul di dalam Al-Quran adalah angka 19, yang didapat dari berbagai perhitungan, misalnya adalah jumlah dari bacaan basmalah yang berjumlah 19 huruf. Dari kesimpulannya, angka 19 adalah sebuah aksioma dalam Al-Quran.

Rahasia gerakan sholat

Berdasarkan Matematika Islam, Fahmi Basya memperlihatkan hubungan antara gerakan sholat gerhana dengan posisi gerhana. Dari sana didapatkan bahwa ruku dapat didefinisikan sebagai gerakan 90 derajat. Jika ruku adalah 90 derajat, sujud adalah 135 derajat, dan berdiri tegak adalah nol derajat, dalam satu rakaat seseorang telah menyelesaikan satu putaran penuh atau 360 derajat. Selain itu, bacaan takbir yang diucapkan pada 29 kali shalat tarawih dan witir ditambah sholat Ied maka akan ditemukan bilangan 1786, yang jika dibagi 19 adalah 94. Angka 94 juga menjadi jumlah kalimat takbir dalam lima kali sholat dalam sehari. Bagi Fahmi, riset yang mendalam terhadap fenomena-fenomena menarik ini akan dapat memperkuat rasa iman kepada Allah.

Kontroversi

Candi Borobudur

Dalam buku "Matematika Islam 3", KH Fahmi Basya menyatakan bahwa Candi Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman di tanah Jawa. Ia menyebutkan beberapa ciri-ciri Candi Borobudur yang menjadi bukti sebagai peninggalan Nabi Sulaiman, seperti hutan atau negeri Saba, makna Saba, nama Sulaiman, buah maja yang pahit, dipindahkannya kekuasaan Saba ke wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman, bangunan yang tidak terselesaikan oleh para jin, tempat berkumpulnya Ratu Saba, dan lain-lain. Melalui hitungan matematika Islam dan Sain Alquran yang dipahaminya, KH Fahmi Basya memaparkan 40 fakta-fakta eksak daya jelajah para Nabi yang ternyata sampai ke Nusantara.

Nabi Sulaiman memerintahkan untuk membentuk gedung besar dan patung-patung. Patung-patung yang beribu-ribu jumlahnya adalah Candi Borobudur, sedangkan bangunan yang besar-besar adalah Candi Prambanan. Saba di Indonesia adalah Wonosobo. Dalam Al-Qur’an, Saba ditumbuhi pohon yang sangat banyak. Lalu Nabi Sulaiman memerintahkan burung Hud-Hud mengirim surat ke Ratu Saba, kediamannya di Candi Ratu Boko, yaitu 36 kilometer dari Borobudur. Surat itu berupa pelat emas dan pernah ditemukan di sebuah kolam di Candi Ratu Boko. Namun, pekerjaan jin belum selesai dikarenakan mereka tahu Nabi Sulaiman telah wafat sehingga mereka menghentikan pekerjaannya. Di Borobudur, terdapat patung yang belum selesai, yaitu Unfinished Solomon.

Hasil karya tulis
  • "Matematika Islam" #1
  • "Matematika Islam" #2
  • "Matematika Islam" #3
  • "Borobudur & Peninggalan Nabi Sulaiman"
Sumber:
- http://id.wikipedia.org/wiki/Fahmi_Basya
- http://id.wikipedia.org/wiki/Matematika_Islam

Abu Yusuf Ya'qub Al-Kindi

Gambar Abu Yusuf Ya'qub Al-KindiAbu Yusuf Ya'qub Al-Kindi adalah dikenal sebagai filsuf pertama yang lahir dari kalangan Islam,

Nasabnya sampai pada Qahthan berdarah Arab asli. Semasa hidupnya, selain bisa berbahasa Arab, ia mahir berbahasa Yunani. Dia juga salah seorang ilmuwan besar muslim dalam bidang kedokteran dan pemilik salah satu pemikiran terbesar yang dikenal sepanjang peradaban manusia.

Biografi

Al-Kindi dilahirkan di Kufah, ayahnya adalah seorang pejabat pemerintahan pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid. Dia dipanggil dengan Al-Kindi karena dihubungkan dengan kabilahnya, yaitu kabilah Arab Kindah. Dia dijuluki filsuf Arab karena dialah filsuf muslim pertama. Barangkali juga karena dialah satu-satunya diantara sekian banyak filsuf muslim yang tidak diragukan kearabannya. Perlu disebutkan bahwa berbagai literatur Barat telah menyelewengkan namanya menjadi Alchendius, sekalipun literatur Barat saat ini menulis dengan namanya yang benar, yaitu Al-Kindi.

Kehidupan dan Pendidikannya

Al-Kindi menghabiskan masa kecilnya di Kufah bersama kedua orang tuanya. Ketika Al-Kindi masih anak-anak, ayahnya meninggal dunia. Keadaannya yang yatim tidak mengendorkan semangatnya. Dia tetap terus mempelajari berbagai macam ilmu di Kufah, Basrah dan Baghdad. Dia memulai belajarnya dari ilmu-ilmu agama, kemudian filsasat, logika, matematika, musik, astronomi, fisika, kimia, geografi, kedokteran dan tekhnik mesin.

Kemampuannya dalam bidang filsafat dan penemuannya dalam bidang kedokteran serta keahliannya sebagai insinyur telah diakui oleh para ilmuwan lain yang hidup pada masanya. Kejeniusan dan kemampuannya dalam berbagai bidang sempat menjadi sumber kedengkian orang-orang yang dengki dan lemah jiwanya, sehingga hampir saja Al-Kindi dipenjara, dicambuk dan diboikot. Anehnya, diantara mereka juga ada yang menjelek-jelekkan prilakunya dan mengklaimnya sebagai orang pelit.

Dalam bidang penguasaan bahasa asing, Al-Kindi menguasai dua bahasa, yaitu bahasa Yunani dan Suryani. Ada yang mengatakan bahwa dia juga mengusai bahasa asing lainnya. Penguasaannya terhadap berbagai bahasa inilah yang telah membantunya menguasai berbagai macam ilmu dan menadikannya sangat berpengaruh bagi Khalifah Al-Ma'mun, sehingga dia mengangkatnya sebagai penerjemah buku-buku asing yang dianggap penting.

Penemuan Ilmiah dan Pemikiran Al-Kindi

Al-Kindi adalah seorang ilmuwan besar yang setara dengan Ibnul Haitsam dan Al-Biruni. Dia memiliki pemikiran besar yang mungkin mengungguli penemuan para ilmuwan besar lainnya sepanjang sejarah. Kalau saja dia tidak hidup pada masa itu, barangkali peradaban Islam tidak akan semaju waktu itu. Demikian juga pada masa Ibnul Haitsam, Al-Biruni, Al-Karakhi dan Ibnu Sina. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa perkembangan peradaban terjadi karena pergerakan yang selalu bertambah atau dengan kata lain ada kerja berkesinambungan yang terus-menerus dilakukan antar generasi. Sebagaimana pada saat itu, Arab tidak memiliki karya besar terjemah sebelumnya. Al-Kindi termasuk ilmuwan yang hidup pada masa pergerakan terjemah, dan dia sendiri adalah seorang penerjemah. Para penerjemah buku-buku Al-Kindi mengatakan bahwa kumpulan buku-buku yang dikarang olehnya dalam bidang filsafat, logika dan berbagai macam ilmu lainnya, jumlahnya mencapai dua ratus buku. Bahkan Dr. Abdul Halim Muntashir mengatakan dalam bukunya "Tarikh Al-Ilm" bahwa buku yang dikarang Al-Kindi mencapai 230 buku.

Penemuan di Bidang Astronomi

Al-Kindi mengamati posisi bintang, planet dan letaknya dari bumi. Dia memperingatkan dampaknya pada bumi, kemungkinan pengukurannya, penentuan pengaruhnya sebagaimana yang terjadi pada fenomena air pasang dan surut yang sangat berkaitan erat dengan posisi bulan. Dia memiliki pikiran yang cerdas dan keberanian ilmiah yang menjadikannya berani menghubungkan antara satu fenomena dengan fenomena alam lainnya di atas bumi, sehingga dapat menciptakan penemuan baru. Diantara yang menakjubkan adalah bahwa seorang orientalis berkebangsaan Belanda, De Bour berpendapat setelah melihat tesis Al-Kindi bahwa hepotesanya tentang air pasang dan surut tentu didasarkan pada eksprimen.

Penemuan di Bidang Ilmu Alam dan Fisika

Al-Kindi membuat tesis tentang warna biru langit. Dia menjelaskan bahwa warna biru bukanlah warna langit itu sendiri, melainkan warna dari pantulan cahaya lain yang berasal dari penguapan air dan butir-butir debu yang bergantung di udara. Tesis ini mendekati banyak penafsiran ilmiah yang benar, yang kita ketahui pada masa sekarang.
Penemuan di Bidang Teknik Mesin

Yaitu ilmu mekanik dalam istilah industri dan teknik saat ini, atau ilmu yang secara khusus berhubungan dengan alat-alat, rangkaian, dan menjalankan fungsinya. Al-Kindi banyak belajar ilmu ini baik secara teoritis maupun praktis. Dia telah menjadi insinyur peradaban Islam dan turut serta dalam pelaksanaan proyek-proyek pembangunan seperti proyek penggalian kanal untuk membuka jaringan sungai Dajlah dan Furat.


Penemuan di Bidang Kimia, Industri Kimia dan Ilmu Perlogaman

Dalam penelitiannya di bidang kimia, Al-Kindi telah memberikan kontribusi yang banyak bagi negeri dan warga negaranya. Dia menguasai berbagai macam ilmu kimia, seperti dalam pembuatan parfum, aroma kimia, kimia untuk membuat kaca, warna, dan besi. Dia memiliki sebuah tesis yang berhubungan dengan pembuatan parfum secara kimiawi dan menciptakan berbagai jenis aroma dari parfum itu, seperti pembuatan minyak kasturi (misk). Dia menyebutkan bahan-bahannya, cara penyulingannya dan cara pencampurannya. Demikian juga dengan pembuatan parfum aroma bunga mawar dan aroma bunga jasmin.

Al-Kindi juga menjelaskan secara ilmiah berbagai proses kimiawi penting, seperti penyaringan dan penyulingan. Al-Kindi juga membuat pedang sebagaimana yang disebutkan dalam dua bukunya dan dia menjelaskan macam-macam besi dan ciri-cirinya serta cara pembuatannya dan pencampurannya. Cara seperti itu sampai sekarang masih dipakai dalam pembuatan pedang, yang mana besi biasa dicampur dengan baja dalam ukuran tertentu kemudian dipanaskan secara bersamaan dengan campurannya, dengan prosentase karbon berkisar antara 5 sampai 10% sehingga didapatkan baja yang sangat keras dan menjadi pedang yang tajam.
Penemuan di Bidang Matematika

Al-Kindi percaya kepada pendapat para ilmuwan bangsa Yunani yang menjadikan ilmu matematika sebagai pengantar yang paling tepat bagi ilmu filsafat dan logika. Hal ini karena ilmu matematika melatih akal untuk berpikir benar dan teratur. Karya Al-Kindi dalam ilmu matematika mencapai 43 buku. 11 buku diantaranya tentang ilmu hitung dan 32 buku tentang ilmu geometri.
Penemuan di Bidang Kedokteran dan Farmasi

Al-Kindi adalah seorang dokter terkemuka. Dia telah menulis sebanyak 22 buku di bidang kedokteran dan banyak memisah-misahkan spesialisasi dalam bidang kedokteran yang penting, sebagaimana dia juga telah mendahului penggunaan musik sebagai salah satu alat untuk mengobati beberapa penyakit.

Karya Bidang Ilmu Logika dan Filsafat

Al-Kindi mendalami filsafat Yunani dan menerjemah sebagian buku-bukunya, menambah dengan keterangan dan komentar yang menunjukkan pada kemampuannya yang sangat besar dalam bidang itu. Kenyataan inilah yang membuat Khalifah Al-Ma'mun memberikan tugas kepadanya untuk menerjemahkan buku-buku karangan Aristoteles. Dia juga menguasai pemikiran dan filsafat Persia dan India. Dia menelusuri metode filsafat dan logika matematika sebagaimana yang dilakukan oleh para filsuf Yunani.

Hubungan Al-Kindi yang kuat dengan filsafat memberikan dampak yang sangat besar bagi perkembangan pemikiran ilmiahnya. Al-Kindi menolak segala pemikiran yang bertentangan dengan Islam dan berusaha untuk memadukan antara filsafat dan pemikiran Islam.

Mengingat penjelasan secara detil tentang peranan Al-Kindi dalam bidang filsafat dan karya-karyanya yang tidak sepenuhnya menjadi fokus utama pembahasan buku ini, maka kami cukup memberitahukan bahwa karya Al-Kindi dalam bidang filsafat berjumlah sebanyak 22 buku.

Hilangnya Buku-buku Al-Kindi

Ya'qub Al-Kindi memiliki lebih dari dua ratus buku yang dikarangnya. Bahkan Dr. Abdul Halim Muntashir mengatakan dalam bukunya "Tarikh Al-Ilm wa Daur Al-Arab fi Taqaddumihi" bahwa buku karangan Al-Kindi lebih dari 230 buku. Akan tetapi yang sangat disayangkan, kebanyakan dari buku-buku ini hilang dan tidak sampai ke tangan kita kecuali judul judulnya saja yang diberitahukan oleh penerjemahnya kepada kita.

Pemikiran Ilmiah Al-Kindi

Secara global, fenomena pemikiran ilmiah Al-Kindi dan indikator yang menunjukkan pada keistimewaannya adalah sebagai berikut:
  • Dia termasuk diantara para ilmuwan pertama yang berpedoman pada metode eksprimen sebagai suatu cara untuk menyimpulkan hakekat ilmiah. Dalam hal ini, kami telah memaparkan pengakuan ilmuwan Belanda, De Bour.
  • Dia mengetahui peranan ilmu matematika dalam membangun akal dan melatihnya untuk konsisten dengan kebiasaan berpikir yang benar. Dalam hal itu, dia berkata, "Filsafat tidak dapat diperoleh kecuali dengan menguasai ilmu matematika."
  • Al-Kindi menyadari bahwa hakekat teori ilmiah dan pemikiran tidak akan benar kecuali setelah melalui proses pematangan yang lama. Dalam hal itu, dia berkata, "Kebenaran yang sempurna tidak akan didapat oleh seseorang, karena ia akan sempurna secara bertahap dengan disempurnakan oleh para generasi pemikir."
  • Sebagai ilmuwan yang memiliki jiwa sehat, dia mengingkari pengaruh bintang-bintang kepada keadaan manusia dan membantah perkataan paranormal tentang pergerakan benda-benda langit. Sekalipun demikian, dia termasuk pemerhati astronomi sebagai salah satu ilmu pengetahuan alam dan mengetahui manfaatnya secara ilmiah dalam berbagai kehidupan manusia.
  • Perhatiannya dalam bidang kimia terbatas pada manfaatnya secara ilmiah, yaitu pada bidang industri dan pengobatan. Dia menolak pemanfaatannya sebagai cara untuk merubah logam yang murah menjadi emas. Menurutnya, pekerjaan seperti ini hanya membuang waktu para ilmuwan pada sesuatu yang tidak banyak manfaatnya.
Wafat

Menurut pendapat Al-Khalili, Al-Kindi wafat pada tahun 260 H (874). Sedangkan menurut sumber lain, dia wafat pada tahun 260 H (874 M). Ada juga yang mengatakan bahwa dia wafat pada tahun 252 H (866 M).

Sumber:
Ensiklopedi Alqur'an 

Sunday, December 10, 2017

Omar Khayyam (Matematikawan)

Gambar Omar KhayyamOmar Khayyam ( Pengucapan bahasa Persia: [xæjjɑːm] ; عمر خیام ( Persia ) ; 18 Mei 1048 - 4 Desember 1131) adalah seorang ahli matematika , astronom , dan penyair Persia .Sebagai seorang matematikawan, dia sangat terkenal karena karyanya mengenai klasifikasi dan solusi persamaan kubik , di mana ia memberikan solusi geometris oleh persimpangan konik . Sebagai seorang astronom, dia menyusun sebuah kalender yang terbukti merupakan perhitungan waktu yang lebih akurat daripada yang diusulkan lima abad kemudian oleh Paus Gregorius XIII .]Omar lahir di Nishapur , di timur laut Iran . Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya di dekat istana penguasa Karakhanid dan Seljuq pada masa yang menyaksikan Perang Salib Pertama . Ada tradisi menghubungkan puisi dengan Omar Khayyam, yang ditulis dalam bentuk syair ( rubā'iyāt رباعیات ). Puisi ini dikenal secara luas di dunia membaca Inggris karena terjemahan oleh Edward FitzGerald ( Rubaiyat dari Omar Khayyam , 1859), yang menikmati kesuksesan besar dalam Orientalisme fin de siècle .

Hidup 

Omar Khayyam lahir di Nishapur , sebuah kota metropolis terkemuka di Khorasan selama abad pertengahan yang mencapai puncak kemakmuran di abad kesebelas di bawah dinasti Seljuq. Nishapur kemudian menjadi pusat utama Zoroastrian . Kemungkinan ayah Khayyam adalah seorang Zoroastrian yang telah masuk Islam 68 Ia dilahirkan dalam keluarga pembuat tenda ( Khayyam ). Nama lengkapnya, seperti yang terlihat dalam sumber-sumber Arab, adalah Abu'l Fath Omar ibn Ibrāhīm al-Khayyām .  Dalam teks Persia Abad Pertengahan ia biasanya hanya disebut Omar Khayyām . Sejarawan Bayhaqi , yang secara pribadi mengenal Omar, memberikan rincian lengkap horoskopnya: "dia adalah Gemini, matahari dan Merkurius berada di bawah kekuasaan  Ini digunakan oleh ilmuwan modern untuk menetapkan tanggal lahirnya pada tanggal 18 Mei 1048.

Masa kecilnya disahkan di Nishapur. Pemberiannya diakui oleh tutor awalnya yang mengirimnya untuk belajar di bawah Imam Muwaffaq Nīshābūrī, guru terbesar di wilayah Khorasan yang mengajar anak-anak dari bangsawan tertinggi.  Pada 1073, pada usia dua puluh enam, dia memasuki pelayanan Sultan Malik-Shah I sebagai penasihat. Pada tahun 1076 Khayyam diundang ke Isfahan oleh wazir dan tokoh politik Nizam al-Mulk untuk memanfaatkan perpustakaan dan pusat belajar di sana. Tahun-tahun di Isfahan produktif. Pada saat itulah ia mulai mempelajari karya matematikawan Yunani Euclid dan Apollonius jauh lebih dekat. Tapi setelah kematian Malik-Shah dan wazirnya (mungkin oleh sekte Assassin ), Omar telah menolak untuk memilih di pengadilan, dan kemudian, dia segera berangkat ziarah ke Mekah . Kemungkinan motif tersembunyi untuk ziarah yang dilaporkan oleh Al-Qifti , adalah bahwa dia diserang oleh pendeta karena skeptisismenya yang nyata. Jadi, dia memutuskan untuk melakukan ziarahnya sebagai cara untuk menunjukkan imannya dan membebaskan dirinya dari semua kecurigaan adanya ketidakrasionalan.  Dia kemudian diundang oleh Sultan Sanjar baru ke Marv , mungkin untuk bekerja sebagai astrolog istana. Dia kemudian diizinkan untuk kembali ke Nishapur karena kesehatannya yang menurun. Sekembalinya, dia sepertinya telah menjalani kehidupan pertapa.  Khayyam meninggal pada tahun 1131, dan dimakamkan di Taman Khayyam .

Matematika

"Persamaan kubik dan persimpangan bagian kerucut" halaman pertama manuskrip dua bab yang disimpan di Universitas Teheran.
Khayyam terkenal selama hidupnya sebagai seorang matematikawan . Karya matematis yang dia jalani meliputi: Sebuah komentar tentang kesulitan mengenai dalil-dalil Elemen Euclid ( Risāla fī šarḥ mā aškala min muṣādarāt kitāb Uqlīdis , selesai pada bulan Desember 1077  ), Pada pembagian kuadran sebuah lingkaran ( Risana fī qismah menggosok 'al-dā'irah , tidak bertanggal namun selesai sebelum risalah pada aljabar ), dan Di atas bukti masalah tentang Aljabar ( Maqāla fi l-jabr wa l-muqābala , kemungkinan besar selesai pada 1079  ). Dia kemudian menulis sebuah risalah tentang penggalian akar n dari bilangan asli, yang telah hilang.

Teori paralel 

Bagian dari komentar Khayyam tentang Elemen Euclid berhubungan dengan aksioma paralel .Risalah Khayyam dapat dianggap sebagai pengobatan pertama dari aksioma yang tidak didasarkan pada petitio principii , namun pada dalil yang lebih intuitif. Khayyam menolak usaha sebelumnya oleh ahli matematika lain untuk membuktikan proposisi tersebut, terutama dengan alasan bahwa masing-masing telah mendalilkan sesuatu yang tidak berarti lebih mudah untuk diterima daripada Postulat Kelima itu sendiri. Dan dia, seperti Aristoteles , menolak penggunaan gerak dalam geometri dan karena itu menolak usaha yang berbeda dengan Al-Haytham juga.  Tidak puas dengan kegagalan matematikawan untuk membuktikan pernyataan Euclid dari dalil-dalilnya yang lain, Omar mencoba menghubungkan aksioma tersebut dengan Postulat Keempat, yang menyatakan bahwa semua sudut benar sama satu sama lain.

Khayyam adalah orang pertama yang mempertimbangkan tiga kasus sudut akut, tumpul, dan kanan untuk sudut puncak sebuah segiempat Khayyam-Saccheri , tiga kasus yang saling melengkapi dan saling berpasangan. Setelah membuktikan sejumlah teorema tentang mereka, dia membuktikan bahwa Postulat V adalah konsekuensi dari hipotesis sudut siku-siku, dan membantah kasus bodoh dan akut sebagai kontradiksi-sendiri. Upaya terperinci Khayyam untuk membuktikan postulat paralel penting untuk pengembangan geometri lebih lanjut, karena jelas menunjukkan kemungkinan geometri non-Euclidean. Hipotesis dari akut, tumpul, dan sudut kanan sekarang diketahui mengarah masing-masing ke geometri hiperbolik non-Euclidean dari Gauss-Bolyai-Lobachevsky, dengan geometri Riemannian , dan geometri Euclidean .

Komentar Tusi tentang perlakuan Khayyam tentang kesejajaran berjalan ke Eropa. John Wallis , profesor geometri di Oxford, menerjemahkan komentar Tusi ke dalam bahasa Latin. Geometri Jesuit Girolamo Saccheri , yang karyanya ( euclides ab omni naevo vindicatus , 1733) pada umumnya dianggap sebagai langkah pertama dalam pengembangan geometri non-Euclidean akhirnya , terbiasa dengan karya Wallis. Sejarawan Amerika matematika, David Eugene Smith menyebutkan bahwa Saccheri "menggunakan lemma yang sama dengan yang dimiliki Tusi, bahkan menulis huruf dengan cara yang persis sama dan menggunakan lemma untuk tujuan yang sama". Dia lebih jauh mengatakan bahwa "Tusi dengan jelas menyatakan bahwa ini karena Omar Khayyam, dan dari teksnya, nampak jelas bahwa yang terakhir adalah inspiratornya."

Konsep bilangan real

Risalah tentang Euclid ini berisi kontribusi lain yang berhubungan dengan teori proporsi dan dengan perumusan rasio. Khayyam membahas hubungan antara konsep rasio dan konsep angka dan secara eksplisit menimbulkan berbagai kesulitan teoritis. Secara khusus, dia berkontribusi pada studi teoritis tentang konsep bilangan irasional . Dengan definisi Euclid tentang rasio yang sama, dia mendefinisikan ulang konsep sebuah angka dengan menggunakan fraksi kontinu sebagai alat untuk mengekspresikan rasio. Rosenfeld dan Youschkevitch (1973) berpendapat bahwa "dengan menempatkan jumlah dan angka irasional dalam skala operasional yang sama, Memulai sebuah revolusi sejati dalam doktrin tentang jumlah." Demikian juga, dicatat oleh DJ Struik bahwa Omar "berada di jalan menuju perluasan konsep angka yang mengarah pada gagasan tentang jumlah sebenarnya ."

Aljabar geometrik 

Pembangunan solusi Omar Khayyam untuk kubus x 3 + 2 x = 2 x 2 + 2. Titik persimpangan yang dihasilkan oleh lingkaran dan hiperbola menentukan segmen yang diinginkan.
Khayyam adalah orang pertama yang secara geometris memecahkan setiap jenis persamaan kubik, sejauh akar positif diperhatikan. Risalah tentang aljabar berisi karyanya tentang persamaan kubik . Ini dibagi menjadi tiga bagian: (i) persamaan yang dapat dipecahkan dengan kompas dan straight edge , (ii) persamaan yang dapat dipecahkan dengan cara berbentuk kerucut , dan (iii) persamaan yang melibatkan kebalikan dari yang tidak diketahui .

Perlakuan Omar terhadap persamaan kubik sangat lengkap. Dia mempertimbangkan tiga persamaan binomial, sembilan persamaan trinomial, dan tujuh persamaan tetranomial. Untuk polinomial tingkat pertama dan kedua, ia memberikan solusi numerik dengan konstruksi geometris. Dia menyimpulkan bahwa ada empat belas jenis kubik yang tidak dapat dikurangi menjadi persamaan tingkat yang lebih rendah. Untuk ini dia tidak bisa menyelesaikan pembangunan segmennya yang tidak diketahui dengan kompas dan straight edge. Dia melanjutkan untuk menyajikan solusi geometris ke semua jenis persamaan kubik dengan menggunakan sifat-sifat kerucut. Esma prasyarat untuk bukti geometri Khayyam meliputi Euclid VI , Prop 13, dan Apollonius II , Prop 12.  Akar positif dari persamaan kubik ditentukan sebagai absis dari sebuah titik persimpangan dua conics, misalnya, persimpangan dua parabola , atau persimpangan parabola dan lingkaran, dll.Namun, dia mengakui bahwa masalah aritmetika kubik ini masih belum terpecahkan, menambahkan bahwa "mungkin orang lain akan mengetahuinya setelah kita".Tugas ini tetap terbuka sampai abad keenambelas, di mana solusi aljabar dari persamaan kubik ditemukan dalam generalitasnya oleh Cardano , Del Ferro , dan Tartaglia di Renaisans Italia .

Siapa pun yang berpikir aljabar adalah tipuan dalam mendapatkan hal yang tidak diketahui telah menganggapnya sia-sia. Tidak ada perhatian yang harus diberikan pada fakta bahwa aljabar dan geometri berbeda dalam penampilan. Algebras adalah fakta geometris yang dibuktikan dengan proposisi lima dan enam Buku Dua Unsur .
Omar Khayyam

Solusi geometrik kuadrat khusus ini telah diteliti lebih lanjut dan diperluas ke empat persamaan derajat.  Solusinya bukanlah jalan langsung menuju solusi numerik, dan solusinya bukanlah angka tapi segmen garis . Meskipun metode serupa telah muncul secara sporadis sejak Menaechmus , karya Khayyam dapat dianggap sebagai studi sistematis pertama dan metode tepat pertama untuk memecahkan persamaan kubik.

Teorema binomial dan ekstraksi akar 

Dari orang India seseorang memiliki metode untuk mendapatkan akar kuadrat dan kuadrat , metode berdasarkan pengetahuan tentang kasus individual - yaitu pengetahuan kuadrat dari sembilan digit 1 2 , 2 2 , 3 2 (dll) dan produknya masing-masing, yaitu 2 × 3 dll. Kami telah menulis sebuah risalah tentang bukti keabsahan metode tersebut dan mereka memenuhi persyaratan. Selain itu kita telah meningkatkan jenisnya, yaitu dalam bentuk penentuan akar keempat, kelima, keenam sampai tingkat yang diinginkan. Tidak ada yang mendahului kita dalam hal ini dan bukti-bukti itu murni aritmatika, yang didasarkan pada aritmatika The Elements .

Risalah Omar Khayyam tentang Demonstrasi Soal Aljabar
Dalam risalah aljabarnya, Khayyam menyinggung sebuah buku yang telah ditulisnya tentang ekstraksi  {\ displaystyle n} n Akar nomor menggunakan hukum yang dia temukan yang tidak bergantung pada angka geometris. Buku ini kemungkinan besar berjudul Kesulitan aritmatika ( Moškelāt al-hesāb ), dan tidak ada. Berdasarkan konteksnya, beberapa sejarawan matematika seperti DJ Struik, percaya bahwa Omar pasti sudah mengetahui formula untuk perluasan binomial.  {\ displaystyle (a + b) ^ {n}} (a + b) ^ n , dimana n adalah bilangan bulat positif.  Kasus kekuasaan 2 secara eksplisit dinyatakan dalam elemen Euclid dan kasus paling banyak kekuasaan 3 telah ditetapkan oleh matematikawan India. Khayyam adalah matematikawan yang menyadari pentingnya teorema binomial umum. Argumen yang mendukung klaim bahwa Khayyam memiliki teorema binomial umum didasarkan pada kemampuannya untuk mengekstrak akar. Susunan angka yang dikenal sebagai segitiga Pascal memungkinkan seseorang menuliskan koefisien dalam ekspansi binomial. Arus segitiga ini terkadang dikenal sebagai segitiga Omar Khayyam.

Astronomi

Kalender Jalali diperkenalkan oleh Omar Khayyam bersama matematikawan dan astronom lainnya di Nishapur. Hari ini adalah salah satu kalender tertua di dunia serta kalender matahari paling akurat yang sedang digunakan saat ini. Karena kalender menggunakan perhitungan astronomi untuk menentukan ekuinoks vernal, ia tidak memiliki kesalahan intrinsik, namun ini menjadikannya sebagai observasi berdasarkan kalender.

Pada 1074, Omar Khayyam ditugaskan oleh Sultan Malik-Shah untuk membangun sebuah observatorium di Isfahan dan memperbarui kalender Persia . Ada panel dari delapan ilmuwan yang bekerja di bawah arahan Khayyam untuk melakukan pengamatan astronomi berskala besar dan merevisi tabel astronomi.  Mengkalibrasi ulang kalender pada hari pertama tahun ini tepat pada saat melewati pusat Matahari di seluruh vernal equinox . Ini menandai awal musim semi atau Nowrūz , hari di mana Matahari memasuki tingkat pertama Aries sebelum tengah hari. Kalender yang dihasilkan diberi nama dalam kehormatan Malik-Shah sebagai kalender Jalālī , dan diresmikan pada hari Jumat, 15 Maret 1079. Observatorium itu sendiri tidak digunakan setelah kematian Malik-Shah di tahun 1092.

Kalender Jalāl adalah kalender matahari yang benar dimana durasi setiap bulan sama dengan waktu perjalanan Matahari melintasi tanda Zodiac yang sesuai . Reformasi kalender memperkenalkan siklus interkalasi 33 tahun yang unik. Seperti yang ditunjukkan oleh karya Khazini , kelompok Khayyam menerapkan sistem interkalasi berdasarkan tahun kabisat quadrennial dan quinquennial. Oleh karena itu, kalender terdiri dari 25 tahun biasa yang meliputi 365 hari, dan 8 tahun kabisat yang mencakup 366 hari.  Kalender tetap digunakan di seluruh Iran Raya dari abad ke-11 sampai abad ke-20. Pada tahun 1911 kalender Jalali menjadi kalender nasional resmi Qajar Iran . Pada tahun 1925 kalender ini disederhanakan dan nama bulan dimodernisasi, menghasilkan kalender Iran modern . Kalender Jalali lebih akurat daripada kalender Gregorian tahun 1582,  dengan kesalahan satu hari yang terakumulasi lebih dari 5.000 tahun, dibandingkan dengan satu hari setiap 3.330 tahun dalam kalender Gregorian.  Moritz Cantor menganggapnya sebagai kalender paling sempurna yang pernah dibuat.

Sebuah klaim populer mengenai efek yang Khayyam percaya pada heliosentrisme didasarkan pada rendering Khayyam Edward FitzGerald yang populer tapi mudah dibaca anak dari puisi Khayyam, di mana baris pertama salah diterjemahkan dengan gambar heliosentris Matahari yang melemparkan "Batu yang menempatkan Bintang ke Penerbangan ".

Sumber : Wikipedia

Abū Isḥāq Ibrāhīm Pembuat instrumen

Gambar Abū Isḥāq Ibrāhīm ibn Yaḥyā al-Naqqāsh al-Zarqālī
Abū Isḥāq Ibrāhīm ibn Yaḥyā al-Naqqāsh al-Zarqālī , juga dikenal sebagai Al-Zarkali atau Ibn Zarqala (1029-1087), adalah pembuat instrumen, pembuat astrologi Arab, dan salah satu astronom terkemuka pada masanya. Meskipun namanya disebut sebagai al-Zarqālī, kemungkinan besar bentuk yang benar adalah al-Zarqālluh.  Dalam bahasa Latin ia disebut sebagai Arzachel atau Arsechieles , bentuk modifikasi Arzachel , yang berarti 'pemahat'.  Ia tinggal di Toledo , Al-Andalus sebelum pindah ke Córdoba kemudian dalam hidupnya. Karya-karyanya mengilhami generasi astronom Islam di Al-Andalus.

Kehidupan awal

Al-Zarqālī lahir di sebuah desa dekat pinggiran kota Toledo , ibukota Taifa di Toledo .

Art dari Toledo di Al-Andalus menggambarkan Alcázar di tahun 976.AD
Dia dilatih sebagai tukang logam dan karena keterampilan burr dia dijuluki Al-Nekkach "pemahat logam". Nama latinnya, 'Arzachel' terbentuk dari bahasa Arab al-Zarqali al-Naqqash , yang berarti 'pemahat'.

Dia sangat berbakat di bidang Geometri dan Astronomi . Dia dikenal telah mengajar dan mengunjungi Córdoba dalam berbagai kesempatan, dan pengalaman dan pengetahuannya yang luas akhirnya menjadikannya astronom terdepan pada masanya . Al-Zarqālī juga seorang penemu, dan karyanya membantu menempatkan Toledo di pusat intelektual Al-Andalus . Dia juga disebut dalam karya Chaucer, sebagai 'Arsechieles'.

Pada tahun 1085 Toledo diambil oleh raja Kristen Castile Alfonso VI . Al-Zarqālī dan rekan-rekannya, seperti Al-Waqqashi (1017-1095) dari Toledo , harus melarikan diri. Tidak diketahui apakah orang tua Al-Zarqālī melarikan diri ke Cordoba atau meninggal di kamp perlindungan Moor .

Karya-karyanya memengaruhi Ibn Bajjah (Avempace), Ibn Tufail (Abubacer), Ibn Rusyd (Averroës), Ibn al-Kammad , Ibn al-Haim al-Ishbili dan Nuruddin al-Betrugi (Alpetragius).

Pada abad ke-12, Gerard dari Cremona menerjemahkan karya al-Zarqali ke bahasa Latin. Dia menyebut Al-Zarqali sebagai astronom dan pesulap.  Ragio Montanous [ rujukan? ] Menulis sebuah buku di abad ke 15 mengenai keuntungan dari Sahifah al-Zarqalia. Pada tahun 1530, ilmuwan Jerman Jacob Ziegler menulis sebuah komentar tentang salah satu karya al-Zarqali. Dalam bukunya "De Revolutionibus Orbium Coelestium", pada tahun 1530, Nicolaus Copernicus mengutip karya al-Zarqali dan Al-Battani .

Sains

Instrumen 
Al-Zarqālī menulis dua karya tentang konstruksi instrumen (sebuah equatorium ) untuk menghitung posisi planet menggunakan diagram model Ptolemaic. Karya-karya ini diterjemahkan ke bahasa Spanyol pada abad ke-13 atas perintah Raja Alfonso X di bagian Libros del Saber de Astronomia yang berjudul "Libros de las laminas de los vii planetas".

Dia juga menemukan jenis astrolabe yang disempurnakan yang dikenal sebagai "tablet al-Zarqālī" (al-ṣafīḥā al-zarqāliyya), yang terkenal di Eropa dengan nama Saphaea .

Ada catatan al-Zarqālī yang membangun jam air , yang mampu menentukan jam siang dan malam dan menunjukkan hari-hari bulan lunar. Menurut sebuah laporan yang ditemukan di Kitāb al-Ju'rāfīyya al-Zuhr , namanya diberikan sebagai Abu al-Qāsim bin'Abd al-Raḥmān, juga dikenal sebagai al-Zarqālī, yang membuat beberapa sejarawan berpikir bahwa ini adalah orang yang berbeda

Teori

Al-Zarqali mengoreksi data geografis dari Ptolemy dan Al-Khwarizmi . Secara khusus, dia mengoreksi perkiraan Ptolemy tentang garis bujur laut Mediterania dari 62 derajat sampai nilai 42 derajat yang benar.  Dalam risalahnya pada tahun matahari, yang hanya bertahan dalam terjemahan bahasa Ibrani, dia adalah orang pertama yang menunjukkan gerak apogee matahari yang relatif terhadap latar belakang bintang yang tetap. Dia mengukur laju geraknya 12,04 detik per tahun, yang sangat dekat dengan perhitungan modern 11,77 detik. Model Al-Zarqāl untuk gerak Matahari, di mana pusat matahari berubah dari lingkaran kecil berputar perlahan untuk mereproduksi gerakan mengamati apogee matahari, telah dibahas pada abad ketigabelas oleh Bernard dari Verdun [8] dan pada abad kelima belas oleh Regiomontanus dan Peurbach . Pada abad keenam belas Copernicus menggunakan model ini, dimodifikasi menjadi bentuk heliosentris, dalam bukunya De Revolutionibus Orbium Coelestium .

Tabel dari Toledo 

Al-Zarqālī juga berkontribusi pada Tabel Toledo yang terkenal, sebuah adaptasi dari data astronomi sebelumnya ke lokasi Toledo bersamaan dengan penambahan beberapa materi baru. [1] Al-Zarqālī terkenal juga untuk Kitab Tabelnya sendiri . Banyak "buku tabel" telah disusun, tapi almanaknya berisi meja yang memungkinkan seseorang menemukan hari-hari dimana bulan-bulan Koptik, Romawi, bulan lunar, dan Persia dimulai, tabel lain yang memberi posisi planet pada waktu tertentu, dan Masih ada lagi yang memfasilitasi prediksi gerhana matahari dan bulan.

Dia juga mengumpulkan almanak yang secara langsung memberi "posisi benda angkasa dan tidak memerlukan perhitungan lebih lanjut". Pekerjaan tersebut menyediakan posisi matahari yang sebenarnya selama empat tahun Julian dari tahun 1088 sampai 1092, posisi sebenarnya dari lima planet setiap 5 atau 10 hari selama 8 tahun untuk Venus, 79 tahun untuk Mars, dan seterusnya, seperti serta tabel terkait lainnya.

Zij dan Almanac -nya diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerard dari Cremona pada abad ke-12, dan berkontribusi pada kelahiran kembali sebuah astronomi berbasis matematis di Eropa Kristen dan kemudian dimasukkan ke dalam Tabel Toledo pada abad ke-12 dan tabel Alfonsine di 13th abad.

Dalam merancang sebuah instrumen untuk menangani model kompleks Ptolemeus untuk planet Merkurius , di mana pusat gerakan deferent bergerak pada epicycle sekunder, al-Zarqālī mencatat bahwa jalur pusat epicycle utama bukanlah lingkaran, karena untuk planet lain Sebaliknya itu adalah sekitar oval dan mirip dengan bentuk pignon . Beberapa penulis telah salah menafsirkan deskripsi al-Zarqāl description tentang jalur oval yang berpusat pada bumi untuk pusat epicycle planet ini sebagai antisipasi jalur elips yang berpusat pada matahari Kepler untuk planet-planet. Meskipun ini mungkin merupakan saran pertama bahwa bagian kerucut dapat berperan dalam astronomi, al-Zarqālī tidak menerapkan elips ke teori astronomi dan juga dia atau orang-orang sezamannya dari Iberia atau Maghrebi menggunakan deferen elips dalam perhitungan astronomi mereka.

Pekerjaan

Karya Utama dan terbitan:
  • 1 - "Al Amal bi Assahifa Az-Zijia";
  • 2 - "Attadbir";
  • 3 - "Al Madkhal fi Ilm Annoujoum";
  • 4 - "Rissalat fi Tarikat Istikhdam as-Safiha al-Moushtarakah li Jamiâ al-ouroud";
  • 5- "Almanak Arzarchel";
Sumber : Wikipedia

Thursday, March 3, 2016

René Descartes"Bapak Filsafat Modern" dan "Bapak Matematika Modern"

Lukisan René DescartesRené Descartes 
Informasi Pribadi :
  • Lahir: 31 Maret 1596 La Haye, Perancis 
  • Meninggal : 31 Maret 1596 (umur -54) Stockholm, Swedia 
  • Kebangsaan: Perancis Tradisi: Rasionalisme 
  • Era: Filsafat abad ke-17
  • Wilayah: Filsafat Barat 
  • Agama: Katolik 
  • Sekolah:Cartesianisme, rasionalisme,fondasionalisme, pendiri Cartesianisme 
  • Kepentingan utama: Metafisika, epistemologi, matematika
  • Gagasan penting: Cogito ergo sum, metode keraguan, sistem koordinat Cartesian, dualisme Cartesian, argumen ontologis bagi keberadaan Tuhan, mathesis universalis, folium dari Descartes.
René Descartes adalah seorang filsuf dan matematikawan  Perancis (Renatus Cartesius dalam literatur berbahasa Latin), dan penulis yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Belanda. Dia dijuluki "Bapak Filsafat Modern" dan "Bapak Matematika Modern". Karyanya yang terpenting ialah Discours de la méthode (1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641).

Awal 
Rene Descartes lahir  31 Maret 1596 La Haye Touraine-Prancis dari sebuah keluarga borjuis. Ketika ia berusia satu tahun, ibunya Jeanne Brochard meninggal. Ayahnya Joachim adalah anggota dari Parlement of Brittany di Rennes, Parlemen Inggris dan memiliki tanah yang cukup luas (borjuis). Ketika ayah Descartes meninggal dan menerima warisan ayahnya, ia menjual tanah warisan itu, dan menginvestasikan uangnya dengan pendapatan enam atau tujuh ribu franc per tahun.
Karya Filsafat

Pengetahuan yang Pasti
Karya filsafat Descrates dapat dipahami dalam bingkai konteks pemikiran pada masanya, yakni adanya pertentangan antara scholasticism dengan keilmuan baru galilean-copernican. Atas dasar tersebut ia dengan misi filsafatnya berusaha mendapatkan pengetahuan yang tidak dapat diragukan. Metodenya ialah dengan meragukan semua pengetahuan yang ada, yang kemudian mengantarkannya pada kesimpulan bahwa pengetahuan yang ia kategorikan ke dalam tiga bagian dapat diragukan.
Pengetahuan yang berasal dari pengalaman inderawi dapat diragukan, semisal kita memasukkan kayu lurus ke dalam air maka akan tampak bengkok.
Fakta umum tentang dunia semisal api itu panas dan benda yang berat akan jatuh juga dapat diragukan. Descrates menyatakan bagaimana jika kita mengalami mimpi yang sama berkali-kali dan dari situ kita mendapatkan pengetahuan umum tersebut.
Logika dan Matematika prinsip-prinsip logika dan matematika juga ia ragukan. Ia menyatakan bagaimana jika ada suatu makhluk yang berkuasa memasukkan ilusi dalam pikiran kita, dengan kata lain kita berada dalam suatu matriks.

Ontologi Tuhan dan Benda
Berangkat dari pembuktiannya bahwa pikiran itu eksis, filsafatnya membuktikan bahwa Tuhan ada dan kemudian membuktikan bahwa benda material ada.
Metafisika

Bagi Rene Descrates, realitas terdiri dari tiga hal. Yakni benda material yang terbatas (objek-objek fisik seperti meja, kursi, tubuh manusia, dan sebagainya), benda mental-nonmaterial yang terbatas (pikiran dan jiwa manusia), serta benda mental yang tak terbatas (Tuhan).

Warisan Matematika
    Gambar René Descartes - Grafik
  • Salah satu warisan Descartes 'paling abadi adalah pengembangan tentang Cartesian atau analitik geometri, yang menggunakan aljabar untuk menggambarkan geometri.
  • Karya Descartes memberikan dasar untuk kalkulus dikembangkan oleh Newton dan Gottfried Leibniz , yang menerapkan kalkulus untuk masalah garis singgung, sehingga memungkinkan evolusi pada cabang matematika modern.
  • Descartes menemukan bentuk awal dari hukum kekekalan mekanik momentum (ukuran gerak suatu objek), dan dibayangkan sebagai yang berkaitan dengan gerak dalam garis lurus, dibandingkan dengan gerakan melingkar sempurna, seperti Galileo yang telah melakukan berbagai persiapan itu.
  • Descartes juga membuat kontribusi untuk bidang optik . Dia menunjukkan dengan menggunakan konstruksi geometris dan hukum refraksi (juga dikenal sebagai hukum Descartes 'atau lebih umum hukum Snell, yang menemukannya 16 tahun sebelumnya) bahwa radius sudut dari pelangi adalah 42 derajat (yaitu, sudut subtended di mata di tepi pelangi dan sinar lewat dari matahari melalui pusat pelangi adalah 42 °).
  • Ia juga secara independen menemukan hukum refleksi.
Kematian
René Descartes meninggal pada 11 Februari 1650 di Stockholm, Swedia. Penyebab kematiannya adalah pneumonia, akibat terbiasa bekerja di tempat tidur sampai tengah hari, Kurangnya tidur bisa mengancam sistem kekebalan tubuhnya. Pada tahun 1991, seorang sarjana Jerman menerbitkan sebuah buku tentang pertanyaan ini.

Di sisi lain, ia mungkin telah dibunuh. Pada 1663, para Paus menempatkan karya-karyanya pada Indeks Buku Terlarang. Jenazahnya dibawa ke Perancis dan dimakamkan di Biara Saint-Germain-des-Pres di Paris. (Wikipedia)

Pythagoras-dikenal melalui teoremanya

Patung PythagorasPythagoras
Informasi Pribadi :
  • Lahir: 570 SM Samos, Aegea Utara, Yunani
  • Meninggal: 495 SM (berusia sekitar 75) Metapontum, Metapontum, Provinsi Matera, Basilicata, Italia
  • Era: Filsafat kuno
  • Tradisi: Pythagoreanisme
  • Minat utama: Metafisika, Musik, Matematika, Etika, Politik
  • Gagasan penting: Musika universalis, Tala Pythagoras, Teorema Pythagoras
Pythagoras adalah seorang matematikawan dan filsuf Yunani yang paling dikenal melalui teoremanya. Ia dikenal juga sebagai "Bapak Bilangan", dia memberikan sumbangan yang penting terhadap filsafat dan ajaran keagamaan pada akhir abad ke-6 SM. Kehidupan dan ajarannya tidak begitu jelas akibat banyaknya legenda dan kisah-kisah buatan mengenai dirinya.

Salah satu peninggalan Pythagoras yang terkenal adalah teorema Pythagoras, yang menyatakan bahwa kuadrat hipotenusa dari suatu segitiga siku-siku adalah sama dengan jumlah kuadrat dari kaki-kakinya (sisi-sisi siku-sikunya). Walaupun fakta di dalam teorema ini telah banyak diketahui sebelum lahirnya Pythagoras, namun teorema ini dikreditkan kepada Pythagoras karena ia yang pertama kali membuktikan pengamatan ini secara matematis.

Pythagoras dan murid-muridnya percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini berhubungan dengan matematika, dan merasa bahwa segalanya dapat diprediksikan dan diukur dalam siklus beritme. Ia percaya keindahan matematika disebabkan segala fenomena alam dapat dinyatakan dalam bilangan-bilangan atau perbandingan bilangan. Terdapat legenda yang menyatakan bahwa ketika muridnya Hippasus menemukan bahwa, hipotenusa dari segitiga siku-siku sama kaki dengan sisi siku-siku masing-masing 1, adalah bilangan irasional, murid-murid Pythagoras lainnya memutuskan untuk membunuhnya karena tidak dapat membantah bukti yang diajukan Hippasus.

Legenda Pythagoras
Pythagoras lahir pada tahun 570 SM di Samos, Aegea Utara, Yunani. Dalam tradisi Yunani, diceritakan bahwa ia banyak melakukan perjalanan, diantaranya ke Mesir. Perjalanan Phytagoras ke Mesir merupakan salah satu bentuk usahanya untuk berguru, menimba ilmu, pada imam-imam di Mesir. Konon, karena kecerdasannya yang luar biasa, para imam yang dikunjunginya merasa tidak sanggup untuk menerima Phytagoras sebagai murid. Namun, pada akhirnya ia diterima sebagai murid oleh para imam di Thebe. Disini ia belajar berbagai macam misteri. Selain itu, Phytagoras juga berguru pada imam-imam Caldei untuk belajar Astronomi, pada para imam Phoenesia untuk belajar Logistik dan Geometri, pada para Magi untuk belajar ritus-ritus mistik, dan dalam perjumpaannya dengan Zarathustra, ia belajar teori perlawanan.

Selepas berkelana untuk mencari ilmu, Phytagoras kembali ke Samos dan meneruskan pencarian filsafatnya serta menjadi guru untuk anak Polycartes, penguasa tiran di Samos. Kira-kira pada tahun 530, karena tidak setuju dengan pemerintahan tyrannos Polycartes, ia berpindah ke kota Kroton di Italia Selatan. Di kota ini, Phytagoras mendirikan sebuah tarekat beragama yang kemudian dikenal dengan sebutan “Kaum Phytagorean.”

Pemikiran Phytagoras
Phytagoras percaya bahwa angka bukan unsur seperti udara dan air yang banyak dipercaya sebagai unsur semua benda. Angka bukan anasir alam. Pada dasarnya kaum Phytagorean menganggap bahwa pandangan Anaximandros tentang to Apeiron dekat juga dengan pandangan Phytagoras. To Apeiron melepaskan unsur-unsur berlawanan agar terjadi keseimbangan atau keadilan (dikhe). Pandangan Phytagoras mengungkapkan bahwa harmoni terjadi berkat angka. Bila segala hal adalah angka, maka hal ini tidak saja berarti bahwa segalanya bisa dihitung, dinilai dan diukur dengan angka dalam hubungan yang proporsional dan teratur, melainkan berkat angka-angka itu segala sesuatu menjadi harmonis, seimbang. Dengan kata lain tata tertib terjadi melalui angka-angka.

Kaum Phytagorean
Kaum phytagorean sangat berjasa dalam meneruskan pemikiran-pemikiran Phytagoras. Semboyan mereka yang terkenal adalah “authos epha, ipse dixit” (dia sendiri yang telah mengatakan demikian).2 Kaum ini diorganisir menurut aturan-aturan hidup bersama, dan setiap orang wajib menaatinya. Mereka menganggap

filsafat dan ilmu pengetahuan sebagai jalan hidup, sarana supaya setiap orang menjadi tahir, sehingga luput dari perpindahan jiwa terus-menerus.
Diantara pengikut-pengikut Phytagoras di kemudian hari berkembang dua aliran. Yang pertama disebut akusmatikoi (akusma = apa yang telah didengar; peraturan): mereka mengindahkan penyucian dengan menaati semua peraturan secara seksama. Yang kedua disebut mathematikoi (mathesis = ilmu pengetahuan): mereka mengutamakan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pasti.

Gambar Pythagoras.animasi teoriTeorema Pythagoras
Dalam matematika, teorema Pythagoras adalah suatu keterkaitan dalam geometri Euklides antara tiga sisi sebuah segitiga siku-siku. Teorema ini dinamakan menurut nama filsuf dan matematikawan Yunani abad ke-6 SM, Pythagoras. Pythagoras sering dianggap sebagai penemu teorema ini meskipun sebenarnya fakta-fakta teorema ini sudah diketahui oleh matematikawan India (dalam Sulbasutra Baudhayana dan Katyayana), Yunani, Tionghoa dan Babilonia jauh sebelum Pythagoras lahir. Pythagoras mendapat kredit karena ialah yang pertama membuktikan kebenaran universal dari teorema ini melalui pembuktian matematis.

Ada dua bukti kontemporer yang bisa dianggap sebagai catatan tertua mengenai teorema Pythagoras: satu dapat ditemukan dalam Chou Pei Suan Ching (sekitar 500-200 SM), satunya lagi dalam buku Elemen Euklides.(Wikipedia)

Wednesday, March 2, 2016

Niklas Koppernigk- Teori Heliosentrisme

Lukisan Nicolaus CopernicusNiklas Koppernigk
Informasi Pribadi :
  • Nama lahir:Niklas Koppernigk (bahasa Polandia:Mikolaj Kopernik) 
  • Lahir: 19 Februari 1473, Torun (Thorn), sekarang Polandia. 
  • Meninggal : 24 Mei 1543 (umur 70), Frombork (Frauenburg), Warmia, sekarang Polandia 
  • Bidang: Matematika, astronomi, hakim, tabib, ilmuwan, rahib Katolik, gubernur, pejabat negara, komandan militer, diplomat, ahli ekonomi 
  • Alma mater: Universitas Kraków, Universitas Bologna, Universitas Padua, Universitas Ferrara. 
  • Dikenal atas: Heliosentrisme
Niklas Koppernigk (latin: Nicolaus Copernicus; bahasa Polandia Mikolaj Kopernik) adalah seorang astronom, matematikawan, dan ekonom berkebangsaan Polandia, yang mengembangkan teori heliosentrisme (berpusat di matahari) Tata Surya dalam bentuk yang terperinci, sehingga teori tersebut bermanfaat bagi sains. Ia juga seorang kanon gereja, gubernur dan administrator, hakim, astrolog, dan tabib. Teorinya tentang Matahari sebagai pusat Tata Surya, yang menjungkirbalikkan teori geosentris tradisional (yang menempatkan Bumi di pusat alam semesta) dianggap sebagai salah satu penemuan yang terpenting sepanjang masa, dan merupakan titik mula fundamental bagi astronomi modern dan sains modern (teori ini menimbulkan revolusi ilmiah). Teorinya memengaruhi banyak aspek kehidupan manusia lainnya. Universitas Nicolaus Copernicus di Torun, didirikan tahun 1945, dinamai untuk menghormatinya.

Awal kehidupan
Copernicus lahir pada tanggal 19 Februari 1473 di Torun, yang pada waktu itu di bawah kekuasaan suatu ordo Kristen bernama Ordo Teutonicum, nama aslinya ialah Niklas Koppernigk (Mikolaj Kopernik, dalam bahasa Polandia yang merupakan bahasa sehari-hari pada waktu itu). Baru belakangan, sewaktu ia mulai menulis karya akademinya, ia menggunakan nama Latin, Nicolaus Copernicus. Ayahnya, seorang saudagar yang berdagang di Torun, mempunyai empat anak; dan Nicolaus adalah anak bungsu. Sewaktu Nicolaus berusia 11 tahun, ayahnya meninggal. Seorang paman, bernama Lucas Waczenrode, mengasuh Nicolaus dan saudara-saudara kandungnya. Ia membantu Nicolaus memperoleh pendidikan yang baik, menganjurkannya untuk menjadi imam.

Pendidikan Nicolaus dimulai di kampung halamannya, tetapi belakangan dilanjutkan di Chelmno yang tidak jauh dari situ. Di sana ia belajar bahasa Latin dan mempelajari karya para penulis kuno. Pada usia 18 tahun, ia pindah ke Kraków, ibukota Polandia saat itu. Di kota ini ia kuliah di universitas dan mengajar dan mengejar hasr4tnya akan astronomi. Setelah ia menyelesaikan pendidikannya di Kraków, paman dari Nikolaus — yang pada waktu itu telah menjadi uskup di Warmia — memintanya untuk pindah ke Frombork, sebuah kota di Laut Baltik.

Waczenrode ingin kemenakannya menduduki jabatan staf katedral. Namun, Nicolaus yang berusia 23 tahun ingin memuaskan dahaganya akan pengetahuan dan berhasil membujuk pamannya untuk mengizinkan dia mempelajari hukum gereja, kedokteran, dan matematika di berbagai universitas di Bologna dan Padua, Italia. Di sana, Nicolaus bergabung dengan astronom Domenico Maria Novara dan filsuf Pietro Pomponazzi. Sejarawan Stanislaw Brzostkiewicz mengatakan bahwa ajaran Pomponazzi telah "membebaskan pikiran astronom muda ini dari cengkraman ideologi abad pertengahan".
Di waktu senggangnya, Copernicus mempelajari karya para astronom zaman dahulu, menjadi begitu larut dalam karya tersebut sampai-sampai ketika ia mengetahui karya Latin itu tidak lengkap, ia mempelajari bahasa Yunani agar dapat meneliti naskah aslinya. Pada akhir pendidikannya, Nicolaus telah menjadi doktor hukum gereja, matematikawan, dan dokter. Ia juga pakar bahasa Yunani, menjadi orang pertama yang menerjemahkan sebuah dokumen dari bahasa Yunani langsung ke bahasa Polandia.

Menelurkan teori yang revolusioner
Sepulangnya ke Polandia, pamannya melantik dia sebagai sekretaris, penasihat, dan dokter pribadinya — suatu kedudukan yang bergengsi. Selama puluhan tahun berikutnya, Nicolaus menjabat berbagai kedudukan administratif, baik di bidang agama maupun sipil. Meski sangat sibuk, ia melanjutkan penelitiannya tentang bintang dan planet, mengumpulkan bukti untuk mendukung suatu teori yang revolusioner bahwa bumi bukan pusat yang tidak bergerak dari alam semesta tetapi, sebenarnya, bergerak mengitari matahari.

Teori ini bertentangan dengan ajaran filsuf yang terpandang, Aristoteles, dan tidak sejalan dengan kesimpulan matematikawan Yunani, Ptolemeus. Selain itu, teori Copernicus menyangkal apa yang dianggap sebagai "fakta" bahwa Matahari terbit di timur dan bergerak melintasi angkasa untuk terbenam di barat, sedangkan bumi tetap tidak bergerak.

Copernicus bukanlah orang yang pertama yang menyimpulkan bahwa bumi berputar mengitari Matahari. Astronom Yunani Aristarkhus dari Samos telah mengemukakan teori ini pada abad ketiga Sebelum Masehi. Para pengikut Pythagoras telah mengajarkan bahwa bumi serta Matahari bergerak mengitari suatu api pusat. Akan tetapi, Ptolemeus menulis bahwa jika bumi bergerak, "binatang dan benda lainnya akan bergelantungan di udara, dan bumi akan jatuh dari langit dengan sangat cepat". Ia menambahkan, "sekadar memikirkan hal-hal itu saja terlihat konyol".

Ptolemeus mendukung gagasan Aristoteles bahwa bumi tidak bergerak di pusat alam semesta dan dikelilingi oleh serangkaian bola bening yang saling bertumpukan, dan bola-bola itu tertancap Matahari, planet-planet, dan bintang-bintang. Ia menganggap bahwa pergerakan bola-bola bening inilah yang menggerakan planet dan bintang. Rumus matematika Ptolemeus menjelaskan, dengan akurasi hingga taraf tertentu, pergerakan planet-planet di langit malam.

Namun, kelemahan teori Ptolemeus itulah yang mendorong Copernicus untuk mencari penjelasan alternatif atas pergerakan yang aneh dari planet-planet. Untuk menopang teorinya, Kopernikus merekonstruksi peralatan yang digunakan oleh para astronom zaman dahulu. Walaupun sederhana dibandingkan dengan standar modern, peralatan ini memungkinkan dia menghitung jarak relatif antara planet-planet dan Matahari. Selama bertahun-tahun, ia berupaya menetukan secara persis tanggal-tanggal manakala para pendahulunya telah membuat beberapa pengamatan penting di bidang astronomi. Diperlengkapi dengan data ini, Copernicus mulai mengerjakan dokumen kontroversial yang menyatakan bahwa bumi dan manusia di dalamnya bukanlah pusat alam semesta.

Kontroversi manuskrip
Copernicus menggunakan tahun-tahun terakhir kehidupannya untuk memperbaiki dan melengkapi berbagai argumen dan rumus matematika yang menopang teorinya. Lebih dari 95 persen dokumen akhir itu memuat perincian teknis yang mendukung kesimpulannya. Dokumen tulisan tangan orisinal ini masih ada dan disimpan di Universitas Jagiellonian di Kraków, Polandia. Dokumen ini tidak berjudul. Oleh karena itu, astronom Fred Hoyle menulis, "Kita benar-benar tidak tahu bagaimana Copernicus ingin menamai bukunya itu".

Bahkan sebelum karya itu diterbitkan, isinya telah membangkitkan minat. Copernicus telah menerbitkan sebuah rangkuman singkat tentang gagasannya dalam sebuah karya yang disebut Commentariolus. Alhasil, laporan tentang penelitiannya sampai ke Jerman dan Roma. Pada awal tahun 1533, Paus Klemens VII mendengar tentang teori Copernicus. Dan, pada tahun 1536, Kardinal Schönberg menyurati Copernicus, mendesak dia untuk menerbitkan catatan lengkap gagasannya. Georg Joachim Rhäticus, seorang profesor di Universitas Wittenberg di Jerman, begitu penasaran oleh karya Copernicus sampai-sampai ia mengunjungi Copernicus dan akhirnya menghabiskan waktu bersamanya selama dua tahun. Pada tahun 1542, Rhäticus membawa pulang sebuah salinan manuskrip itu ke Jerman dan menyerahkannya kepada seorang tukang cetak bernama Petraeius dan seorang juru tulis sekaligus korektor tipografi bernama Andreas Osiander.

Osiander menjuduli karya itu De revolutionibus orbium coelestium (Mengenai Perputaran Bola-Bola Langit). Dengan mencantumkan frasa “bola-bola langit”, Osiander menyiratkan bahwa karya itu dipengaruhi oleh gagasan Aristoteles. Osiander juga menulis kata pengantar anonim, yang menyatakan bahwa hipotesis dalam buku itu bukanlah artikel tentang iman dan belum tentu benar. Copernicus tidak menerima salinan dari buku yang dicetak itu, yang diubah dan dikompromikan tanpa seizinnya, sampai hanya beberapa jam sebelum kematiannya pada tahun 1543.

"Mengenai Perputaran" - karya yang revolusioner
Perubahan yang dibuat Osiander pada mulanya meluputkan buku itu dari kecaman. Asronom dan fisikawan Italia, Galileo, belakangan menulis, "Sewaktu dicetak, buku itu diterima oleh Gereja suci dan telah dibaca dan dipelajari oleh setiap orang tanpa sedikit pun kecurigaan bahwa gagasan ini bertentangan dengan doktrin-doktrin gereja. Namun, mengingat sekarang ada berbagai pengalaman dan bukti penting yang memperlihatkan bahwa gagasan itu memiliki bukti yang kuat, muncullah orang-orang yang hendak mendiskreditkan pengarangnya tanpa membaca bukunya sedikit pun".

Kaum Lutheran merupakan yang pertama-tama menyebut buku itu "tidak masuk akal". Gereja Katolik, meski pada mulanya tidak menyatakan kecaman, memutuskan bahwa buku itu bertentangan dengan doktrin resminya dan pada tahun 1616 mencantumkan karya Copernicus ke dalam buku-buku terlarang. Buku itu baru dicabut dari daftar ini pada tahun 1828. Dalam kata pengantarnya untuk terjemahan bahasa Inggris dari buku itu, Charles Glenn Wallis menjelaskan, "Pertikaian antara Katolik dan Protestan membuat kedua sekte itu takut pada skandal apa pun yang tampaknya dapat merongrong respek terhadap Kegerejaan Alkitab, dan akibatnya mereka menjadi terlalu harfiah dalam membaca ayat Alkitab dan cenderung mengutuki setiap pernyataan yang dapat dianggap sebagai penyangkalan atas setiap penafsiran harfiah dari setiap ayat dalam Alkitab". Sebagai contoh, kisah yang dicatat di Yosua 10:13, yang menceritakan tentang Matahari yang dibuat tidak bergerak, digunakan untuk menegaskan bahwa Matahari, bukan bumi, yang biasanya bergerak.

Dewasa ini, Copernicus disanjung oleh banyak orang sebagai Bapak Astronomi Modern. Memang, uraiannya tentang alam semesta telah dimurnikan dan diperbaiki oleh ilmuwan yang tekemudian, seperti Galileo, Kepler, dan Newton. Akan tetapi, astofisikawan Owen Gingerich mengomentari, "Copernicuslah yang dengan karyanya memperlihatkan kepada kita bagaimana rapuhnya konsep ilmiah yang sudah diterima untuk waktu yang lama". Melalui penelitian, pengamatan, dan matematika, Kopernikus menjungkirkbalikkan konsep ilmiah dan agama yang berurat berakar tetapi keliru. Dalam pemikiran manusia, ia juga
“menghentikan Matahari dan menggerakkan bumi”.

Kontroversi kewarganegaraan
Kewarganegaraan Copernicus mulai abad ke-19 menjadi bahan perdebatan sengit. Namun sebenarnya ia bisa dikategorisasikan baik sebagai warga Jerman maupun Polandia. Dalam bahasa Jerman namanya secara umum dieja sebagai Kopernikus dan merupakan versi Latin dari nama Jerman Koppernigk. Dalam bahasa Polandia namanya dieja sebagai Mikolaj Kopernik. Ibu Kopernikus yang bernama Barbara Watzenrode merupakan seorang warga Jerman. Sedangkan kewarganegaraan ayahnya tidak diketahui. Kota kelahirannya Torun tidak lama sebelum ia lahir dikuasai raja-raja Polandia, sehingga ia bisa dianggap sebagai warga Polandia.

Nicolaus Copernicus meninggal di Frombork, 24 Mei 1543 pada umur 70 tahun. (Wikipedia)

Abu abdallah Muhammad bin Ibrahim al-Fazari-Astrolab planisferis

Gambar Muhammad bin Ibrahim al-Fazari
Abu abdallah Muhammad bin Ibrahim al-Fazari (meninggal 796 atau 806) adalah seorang filsuf, matematikawan dan astronom  Muslim. Ia banyak menterjemahkan buku-buku sains ke dalam bahasa Arab dan Persia. Ia juga merupakan astronom muslim pertama yang membuat astrolobe, alat untuk mengukur tinggi bintang. Ia pernah mendapat tugas untuk menterjemahkan ilmu angka dan ilmu hitung, serta ilmu astronomi India yang bernama Sind Hind, oleh khalifah Al Mansyur dari Abbasiyah.

Ayahnya bernama Ibrahim Al-Fazari yang juga seorang astronom dan matematikawan. Beberapa sumber menyebut dia sebagai seorang Arab, sumber lain menyatakan bahwa ia adalah seorang Persia. Al Farazi menetap serta berkarya di Baghdad, Irak, ibu kota kekhalifahan Abbasiyah.

Muhammad bin Ibrahim al-Fazari bersama ayahnya, Ibrahim al fazari, merupakan seorang ahli matematika dan astronom di istana kekhalifahan Abbasiya, di era khalifah harun al Rasyid. Ia menyusun berbagai jenis penulisan astronomi.

Bersamaan dengan Ya’qub ibn Thariq dan ayahnya, ia membantu menterjemahkan teks astronomi India oleh Brahma gupta (abad 7 M), Brahma Sphuta Siddhanta, ke dalam bahasa Arab sebagai Az jiz ala Sini al Arab atau kitab Sindhind. Terjemahan ini dimungkinkan sebagai saran penting dalam tranmisi angka hindu dari India ke dalam Islam.

Dinasti Abbasiyah yang berkuasa saat itu memberikan peluang dan dukungan yang sangat besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan apalagi dalam bidang astronomi. Khalifah al-Mansyur adalah penguasa Abbasiyah pertama yang memberi perhatian serius dalam pengkajian astronomi dan astrologi.

Khalifah Harun al rasyid mengumpulkan dan mendorong cendekiawan muslim untuk menerjemahkan beragam literatur yang berasal dari Yunani, Romawi Kuno, India, hingga Persia. Al Farazi adalah salah satu astronom paling awal di dunia Islam. Beliau memegang peran penting dalam kemajuan ilmu astronomi di masa Abbasiyah.

Al-Fazari menerjemahkan beberapa literatur asing ke dalam bahasa Arab dan Persia. Bersama dengan beberapa cendekiawan lain, seperti Naubakht, dan Umar ibnu al-Farrukhan al-Tabari, beliau meletakkan dasar-dasar ilmu pengetahuan di dunia Islam.

Pekerjaan al-Fazari
Khalifah Harun al rasyid menunjuk seorang ahli astronomi yang bernama Naubahkh untuk memimpin upaya penerjemahan. Khalifah menulis surat pada kaisar Bizantium agar mengirimkan buku-buku ilmiah untuk diterjemahkan, termasuk buku-buku tentang ilmu astronomi.

Mungkin sekitar tahun 790, Al-Fazari menterjemahkan banyak buku sience ke dalam bahasa Arab dan Iran. Ia ditasbihkan sebagai pencipta astrolabe pertama dalam dunia Islam. Bersamaan dengan Yaʿqub ub ibn Tariqia membantu menerjemahkan teks astronomi India oleh Brahmagupta, Sindhind., dalam bahasa Arab, Az-Zij ‛ala Sini al-‛Arab(Tables of the disks of the astrolabe).

Penerjemahan ini kemungkinan merupakan awal dimana angka Hindu ditransmisi dari India ke Islam. Buku tersebut dibawa oleh seorang pengembara dan ahli astronomi India bernama Mauka ke Baghdad dan segera menarik perhatian kaum cendekia di sana.

Al-Fazari menunaikan tugas dengan baik, menurut Ehsan Masood dalam bukunya “Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern”, saat itu telah menguasai astronomi sehingga di bawah arahan khalifah langsung beliau mampu menerjemahkan dan menyadur teks astronomi India kuno yang sangat teknis tersebut. Kemudian beliau memberi judul Zij al Sinin al Arab (Tabel Astronomi Berdasarkan Penanggalan Bangsa Arab) pada karya terjemahannya tersebut.

Menurut Ehsan Masood, penerjemahan Sindhind sangat berharga. Bukan hanya karena wawasan astronominya tapi juga sistem penomoran India, Kalpa Aharganas dengan perhitungan tahun Hijriah Arab. Selain itu, karya al Farazi mencantumkan daftar negara-negara di dunia dan dimensinya berdasarkan perhitungan tabel. Hasil kerja Al Farazi melalui penerjemahan mengenalkan sistem penomoran tersebut ke dunia Arab.

Astrolab
Fhoto Astrolab

Astrolab planisferis merupakan mesin hitung analog pertama, difungsikan sebagai alat bantu astronomi untuk menghitung waktu terbit dan tenggelam serta titik kulminasi matahari dan bintang serta benda langit lainnya pada waktu tertentu. Astrolab menjadi instrumen paling penting yang pernah dibuat. Dengan desain akurat, astrolab menjadi instrumen penentu posisi pada abad pertengahan.

Astrolab merupakan model alam semesta yang bisa digenggam sekaligus jam matahari untuk mengukur tinggi dan jarak bintang. Chaucer dalam “Treatise in the Astrolabe” menyatakan bahwa Astrolab kemudian menjadi alat navigasi utama, hanya dalam beberapa bulan setelah ditemukan Astrolab oleh Al Farazi, kemajuan astronomi melejit cepat.

Astrolab memainkan peranan penting dalam pencapaian bidang astronomi oleh umat Muslim hingga masa-masa berikutnya. Seorang astronom bernama al Sufi berhasil memanfaatkannya dengan baik. Al Sufi mampu memetakan sekitar seribu kegunaan Astrolab dalam berbagai bidang yang berbeda seperti astronomi, astrologi, digunakan termasuk meramalkan posisi matahari, bulan, planet, dan bintang-bintang, navigasi. Dalam dunia Islam, Astrolabe digunakan untuk menemukan waktu matahari terbit dan naik dari bintang-bintang, untuk membantu jadwal (shalat).

Pada abad ke-13, karya ini ditemukan kembali oleh penjelajah dan ahli geografi Muslim bernama Yaqut al-Hamawi dan al-Safadi. Gairah dan kemauan para sarjana Muslim belajar dari tradisi ilmu lain serta dukungan penuh dari pemerintahan menjadi kunci keberhasilan dalam memajukan ilmu pengetahuan di dunia Islam.

Sumber: 

Maria Gaetana Agnesi-dikenal sebagai versiera.

Gambar Maria Gaetana AgnesiMaria Gaetana Agnesi
Informasi Pribadi :
  • Lahir: 16 Mei 1718 Milan, Italia
  • Meninggal: 9 Januari 1799 (umur 80) Milan, Italia
  • Kebangsaan: Italia
  • Bidang: Matematika
  • Institusi: Universitas Bologna
Maria Gaetana Agnesi adalah seorang filsuf dan matematikawati Italia. Ia dikenal karena bukunya yang terkenal tentang differential dan integral calculus. Ia juga terkenal dengan kurva yang dikenal sebagai versiera.

Maria Gaetana Agnesi lahir pada 16 Mei 1718 di kota Milan, Italia. Ia adalah anak tertua dari 21 bersaudara, ia dilahirkan dalam keluarga Italia kaya dan terpelajar dan mempunyai ayah seorang matematikawan. Beliau juga tercatat sebagai salah satu anggota kehormatan dari Universitas Bologna.

Saat berusia usia 9 tahun Ia mampu menguasai bahasa Yunani, Ibrani, Spanyol, Jerman, Latin, dan disebut sebagai “Poliglot Berjalan”. Pada usia 20 tahun ia memulai sebuah karyanya yang terpenting, sebuah buku pertama yang membahas masalah differential dan integral calculus.

Pada masanya, karyanya sungguh-sungguh mengagumkan dan merupakan buku ajar kalkulus luas yang pertama sejak karya dini dari I'Hospital. Buku itu telah menerima banyak penghormatan.

Nama Agnesi menguasai suatu tempat dalam kepustakaan matematika melalui suatu sumbangan kecil Maria yakni pembahasannya tentang kurva yang dikenal sebagai versiera, yang berasal dari bahasa latin vertere yang artinya membalik. Kurva tersebut dikenal sebagai kurva "sihir dari Agnesi" karena versiera dalam bahasa Italia berarti Iblis bet!na.

Pada peringatan seratus tahun meninggalnya, kota Milan menghormati Agnesi dengan memberi nama sebuah jalan atas namanya. Sebuah batu pertama di bagian muka gedung Luogo Pio bertuliskan prasasti yang isinya "terpelajar dalam matematika, keagungan Italia dan abadnya".

Maria Gaetana Agnesi meninggal pada 9 Januari 1799 (umur 80) di Milan, Italia.

Seki Takakazu- -Menemukan Determinan

Gambar Seki Takakazu.Seki Kowa
Informasi Pribadi :
  • Lahir: Maret , 1642 Edo atau Fujioka, Jepang
  • Meninggal: 5 Desember 1708 ( kalender Gregorian ) Jepang
  • Kebangsaan:  Jepang
  • Bidang: Matematika
Seki Kowa atau Seki Takakazu adalah seorang matematikawan dari Jepang zaman Edo yang menciptakan sistem notasi baru matematika yang digunakan dibanyak teorema dan teori. Sumbangan terkenal dari Seki pada aljabar adalah menemukan Determinan. Beliau hanya dapat menyelesaikan matrik ordo 2x2 dan 3x3, dan gagal untuk ordo yang lebih tinggi. Akan tetapi muridnya yaitu Laplace berhasil menyelesaikan unsur untuk matriks ordo yang lebih tinggi yang digunakan untuk mengeliminasi variabel pada sistem persamaan. Seki meletakkan dasar bagi perkembangan selanjutnya dari matematika Jepang yang dikenal sebagai wasan.

Biografi
Seki Kowa lahir pada bulan Maret 1642 di Edo atau Fujioka, Jepang. Dia lahir dari Klan Uchiyama, subjek Ko-shu han, dan diadopsi ke dalam keluarga Seki, subjek dari Shogun. Sementara di Ko-shu han, dia terlibat dalam sebuah proyek survei untuk menghasilkan peta yang dapat digunakan untuk tanah majikannya. Dia menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam mempelajari kalender Cina abad ke-13 untuk memperbaiki kekurangakuratan yang digunakan di Jepang pada waktu itu.

Determinan
Seki Kowa mempublikasikan konsep determinan pertama kali di Jepang tahun 1683. Seki menulis buku Method of Solving the dissimulated problems yang memuat metode matriks. Akan tetapi Seki Kowa belum menggunakan istilah determinan dalam memaparkan konsep determinan ini. Walaupun Seki Kowa telah memperkenalkan bentuk determinan dan memberi metode umum untuk menghitungnya. Seki Kowa menemukan determinan khusus untuk matriks ordo 2 x 2, 3 x 3 , 4 x 4, 5 x 5 saja.

Setelah itu diikuti Leibniz dalam suratnya ke 1’Hopital tahun 1683 di Eropa menjelaskan sistem persamaan misalnya :
  • 10+11x+12y=0
  • 20+21x+22y=0
  • 30+31x+32y=0
Hanya memiliki satu penyelesaian karena 10.20.32+11.22.30+12.20.31=10.22.31+11.20.32+12.21.30 yang tidak lain merupakan syarat determinan koefisien sama dengan nol. Tetapi Leibniz sesungguhnya tidak bermaksud menggunakan bilangan, adapun yang dinyatakan dengan 21 adalah a21­. Leibniz menggunakan istilah resultant untuk kombinasi hasil kali koefisien dari determinan tersebut.
Gambar Seki Kowa.binominal

Seiring bergulirnya waktu Maclurin menulis Treatise of algebra pada tahun 1730 dan baru diterbitkan tahun 1748. Buku memuat pembuktian Aturan Cramer untuk matriks 2 x 2 dan 3 x 3. Selajutnya konsep determinan diperjelas oleh Cramer pada tahun 1750 dalam buku Introduction to the analysis of algebraic curve memberikan aturan umum untuk aturan Cramer pada matriks n x n tetapi tidak ada bukti yang diberikan.

Tahun 1764, Bezout memberikan sebuah metode menghitung determinan, begitu juga Vandermonde pada tahun 1771. Dan tidak kalah pentingnya tahun 1722, Laplace menggambarkan aturan ekspansi Laprace dan ia menamakan determinan dengan resultant.

Istilah determinan pertama kali digunakan oleh Gauss dalam Disquistiones arithmeticae (1801). Dalam buku tersebut terdapat dalam pembahasan bentuk-bentuk kuadrat dengan menggunakan determinan. Cauchy pada tahun 1812 memaparkan istilah Eliminasi Gauss, yang telah digunakan di Cina tahun 200 SM dimana orang pertama menggunakan istilah determinant dalam konteks modern. Karya-karya Cauchy hampir mewakili konsep determinan modern. Dia merintis konsep ‘minor’ dan ‘adjoints’, serta hasil kali matriks. Dalam karya tahun 1841 ia menggunakan tanda dua garis vertikal untuk menunjukkan determinan.

Saat ini konsep Cauchy dapat dinyatakan sbagai berikut.

Determinan dengan Minor dan kofaktor
Kofaktor dan minor hanya berbeda tanda Cij=±Mij untuk membedakan apakah kofaktor pada i.
det(A3x3)

= a11(a22a33 - a23a32) - a12(a21a33 - a23a31) + a13(a21a32 - a22a31)
= a11a22a33 + a12a23a31 + a13a21a32 - a13a22a31 - a12a21a33 - a11a23a32

Perhitungan Pi
Kontribusi Seki yang lainnya adalah pembetulan dari lingkaran, yaitu, perhitungan pi ; ia memperoleh nilai π yang benar ke tempat desimal 10, menggunakan apa yang sekarang disebut " proses delta-squared Aitken , "ditemukan kembali pada abad ke-20 oleh Alexander Aitken.

Kematian
Seki Takakazu (Seki Kowa) meninggal di Jepang pada 5 Desember 1708 ( kalender Gregorian ).

Sumber: 
  • en.wikipedia.org
  • Berbagai sumber